Rotasi.co.id – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (8/9/2025) sore, seiring sikap pelaku pasar yang memilih wait and see terhadap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Rupiah tercatat melemah 40,50 poin atau 0,25 persen menjadi Rp16.414 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.375 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi karena pasar masih mencermati sinyal pemangkasan suku bunga The Fed.
“Data terbaru Amerika Serikat telah memberikan The Fed banyak alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (15/9/2025).
Sentimen Global dan Kebijakan The Fed
Ibrahim mengungkapkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat periode Agustus 2025 memperlihatkan inflasi utama masih relatif tinggi.
Namun, secara keseluruhan, data menunjukkan perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko penurunan lapangan kerja.
Kondisi ini mendorong ekspektasi pasar bahwa pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pekan ini hampir pasti dilakukan.
“Indikator-indikator ekonomi telah menutupi kekhawatiran inflasi yang dikhawatirkan The Fed selama ini. Sebaliknya, isu melemahnya sektor ketenagakerjaan kini menjadi fokus utama,” tegas Ibrahim.
Tensi Geopolitik Rusia-Ukraina
Selain faktor moneter, gejolak geopolitik juga memberi tekanan terhadap rupiah. Ibrahim menilai meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia, termasuk terminal ekspor utama Primorsk dan kilang Kirishinefteorgsintez, berpotensi memicu guncangan pasokan energi global.
“Serangan itu berpotensi menghentikan produksi minyak Rusia dalam jumlah besar. Dampaknya bisa terasa bagi pasar utama Moskow, terutama India dan China,” jelas Ibrahim.
Situasi ini menambah ketidakpastian pasar, karena harga energi dunia sangat berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fokus Pasar dan Upaya Diplomasi
Ibrahim menambahkan, fokus investor saat ini juga tertuju pada upaya Amerika Serikat untuk meredakan konflik Rusia-Ukraina.
Namun, peluang perundingan dinilai tipis setelah Moskow mengisyaratkan bahwa pembicaraan gencatan senjata dengan Kyiv telah terhenti pada akhir pekan lalu.
Menurutnya, ketidakpastian politik global tersebut memperkuat sikap wait and see pelaku pasar, sehingga nilai tukar rupiah rawan mengalami tekanan lanjutan jika tidak ada katalis positif dari faktor domestik.
Stimulus Domestik dan Prospek Ekonomi
Dari dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi yang akan digelontorkan pada akhir 2025.
Meski nilai pasti belum diumumkan, salah satu program yang disusun adalah perluasan insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP).
Saat ini, insentif tersebut baru berlaku bagi buruh di sektor padat karya dengan gaji di bawah Rp10 juta per bulan.
“Publik tidak perlu khawatir jika target pertumbuhan tidak tercapai, karena kebijakan fiskal masih bisa menopang percepatan pembangunan,” ujar Ibrahim.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 mencapai 5,2 persen year on year (yoy).
Menurut Ibrahim, target tersebut masih realistis, mengingat pemerintah memiliki cadangan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang cukup besar.
“Saldo anggaran lebih pemerintah masih banyak. Bahkan sekitar Rp200 triliun sudah dipindahkan dari Bank Indonesia ke lima Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk memacu penyaluran kredit ke sektor riil,” jelasnya.
Prospek Rupiah ke Depan
Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh keputusan The Fed pada pekan ini.
Jika pemangkasan suku bunga benar terjadi, rupiah berpotensi mendapat dukungan penguatan, meski tekanan geopolitik masih membayangi.
“Pelaku pasar perlu tetap mencermati sentimen global, namun stimulus fiskal dalam negeri juga dapat menjadi penopang penting bagi stabilitas nilai tukar,” pungkas Ibrahim. (*)














