Rotasi.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) mengagendakan penyelenggaraan Festival Kuliner pada Maret 2026 guna menyemarakkan momentum Ramadan 1447 Hijriah di wilayah ibu kota.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus menyediakan ruang bagi masyarakat dalam merayakan tradisi bulan suci dengan beragam pilihan takjil dan hidangan khas Nusantara.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Parekraf DKI Jakarta, Puji Astuti, mengonfirmasi bahwa rencana pelaksanaan festival tersebut diproyeksikan berlangsung pada akhir pekan pertama bulan Maret. Saat ini, koordinasi internal masih dilakukan guna mematangkan teknis pelaksanaan agar festival dapat berjalan lebih optimal dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun ini, Pemprov DKI melalui Dinas Parekraf akan melaksanakan Festival Kuliner. Untuk tanggalnya, masih didiskusikan, rencana tanggal 7-8 Maret 2026,” ujar Puji Astuti dikutip, Minggu (22/2/2026).
Meskipun jadwal tentatif telah ditetapkan, pihak Dinas Parekraf belum dapat merinci lokasi spesifik serta jenis kuliner kurasi yang akan ditampilkan. Namun, jika berkaca pada suksesnya penyelenggaraan Pasar Kreatif tahun 2025, Pemprov DKI konsisten menghadirkan titik-titik strategis di lima wilayah kota administrasi sebagai lokasi favorit warga untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit.
Sebagai informasi, rangkaian kegiatan serupa pada tahun sebelumnya telah berhasil mengintegrasikan sektor kuliner, kriya, dan fesyen di berbagai ruang publik hijau.
Beberapa lokasi yang pernah menjadi pusat perhatian antara lain Taman Lapangan Banteng, Tebet Eco Park, Taman Cempaka, hingga Kawasan Kota Tua. Keistimewaan festival ini biasanya terletak pada kolaborasi lintas sektor, seperti kehadiran “Pojok Tanah Abang” yang bekerja sama dengan Perumda Pasar Jaya untuk menghadirkan produk fesyen berkualitas.
Konsep Festival Kuliner Ramadan 2026 ini diprediksi akan tetap mempertahankan nuansa religius dan budaya melalui balutan pertunjukan musik islami serta sesi kuliah tujuh menit (kultum) menjelang azan Magrib.
Dengan agenda ini, Jakarta diharapkan tetap menjadi destinasi wisata religi dan kuliner yang inklusif bagi warga lokal maupun wisatawan selama bulan Ramadan. (*)














