ROTASI
No Result
View All Result
  • Login
  • News
  • Opini
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Politik
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Internasional
Trending
ROTASI TV
  • News
  • Opini
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Politik
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Internasional
No Result
View All Result
ROTASI
No Result
View All Result
  • News
  • Opini
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Politik
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Internasional
Home Opini

Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia

Rotasi by Rotasi
January 19, 2026
Reading Time: 5 mins read
0
Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia

Disampaikan Oleh: Yusuf Blegur

Rakernas I Gerakan Rakyat tidak hanya sekedar berupaya melakukan konsolidasi dan internalisasi organisasi bertendensi politik kekuasaan. Lebih penting dan mendesak dari itu adalah menemukan kembali ketuhanan dan kemanusiaan, yang telah lama hilang di republik ini

Republik lahir dari kekuatan pikiran individu. Kemudian bertemu dalam arus besar berupa gagasan-gagasan para cendekia yang memiliki visi yang sama. Sebuah kemerdekaan bangsa. Konstruksi negara mulai dibangun dan disusun. Melibatkan semua kekuatan revolusioner, ulama dan tokoh agama, warga sipil yang dipersenjatai cikal bakal tentara, jurnalis dan segenap rakyat dengan beragam status sosial dan profesi.

Tampilah figur-figur dan organisasi dengan nama besar yang mengalami pergulatan pemikiran dan perjuangan pembebasan sebagai antitesis kolonialisme dan imperialisme saat itu.

Ada Soekarno, M Hatta, Tan Malaka, KH Wahid Hasyim, KH. Ahmad Dahlan, Jend. Soedirman dan masih banyak lagi yang namanya tak terlalu kesohor, tak tercatat dan atau dihapuskan dari sejarah.

Dari gerakan pemikiran dan perjuangan fisik lahirlah negara bangsa, diberi nama Republik Indonesia. Seiring itu, diskursus terus tumbuh dan dialektika berkembang merumuskan konsep negara kebangsaan. Aliran politik dan ideologi berkecamuk, argumentatif dan kompetitif untuk menjadi landasan idiil negara. Ada agama, nasionalis dan komunis yang kerap diperhalus dengan sosialisme ala Indonesia. Ada juga pertarungan antara konsep federasi dan negara kesatuan dalam membingkai bentuk negara.

Melewati semua itu, konsensus nasional digelar, menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, dan NKRI menjadi nama dan bentuk negara. Bumbu-bumbu pranata sosial seperti masyarakat religius, gotong-royong, toleransi, adat ketimuran dll. ditambahkan untuk mempercantik wajah republik.

Kini setelah hampir 86 tahun usia kemerdekaan, kerja-kerja kemanusiaan dan pembangunan peradaban nasional itu cenderung gagal, kalau tak mau disebut mengalami kehancuran.

Cita-cita mulia kemerdekaan, pupus seiring nekolim lahir dengan watak lama namun memiliki wajah baru. Bangsa asing dan bangsa sendiri bercampur menyatu dengan karakteristik penjajah yang telanjang dan represif.

RELATED POSTS

Sahrin Hamid Mundur dari Komisaris Jakpro, Sebuah Embrio Etika dan Moral Budaya Partai Politik

11 Januari 1966, Mahasiswa Gaungkan Tritura di Jakarta

Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat

Penyelenggaraan negara seolah-olah berjalan mengikuti konstitusi. Mekanisme kedaulatan rakyat diklaim telah sesuai prinsip-prinsip demokrasi. Namun realitasnya, apa yang disebut dengan orientasi kekuatan ipoleksosbudhankan itu rontok, perlahan hanya menyisakan simbol dan jargon-jargon yang manipulatif. Negara menyandang nama republik, prakteknya sama dengan monarkhi. Politik dinasti menjadi kekuasaan suprem yang mengisi hampir semua jabatan penting dan strategis dalam pemerintahan.

Tak ada keadilan dan tak ada kemakmuran. Tak pernah muncul apa yang disebut negara kesejahteraan. Hanya ada trilogi pembangunan versi baru dan modern berupa instabilitas nasional, pertumbuhan kemiskinan dan pemerataan kebodohan. Konsep lama “trickle down effect” diperbarui dan tegas dimodifikasi dalam bentuk kekuasaan dan kekayaan dikuasai segelintir orang. Rakyat hanya dan akan terus menjadi sapi perahan, pada pikiran, tubuhnya dan ekonominya.

Sumber daya alam dijarah habis-habisan, sumber daya manusia dilecehkan dan diperbudak serta pajak intens memerkosa rakyat.
Lengkap sudah distorsi kekuasaan bertransformasi menjadi “state organized crime”. Mengkritik dan menggugat pemerintah yang berlindung dibalik otoritas negara berarti dianggap melawan, dicap menjadi pelaku kriminal dan bahkan disebut makar terhadap pemerintah.

Konsekuensinya jelas, harus dihukum, tak sekedar dikurung jerusi besi, bahkan kematian tak terelakan jika kekuasaan membutuhkan untuk meredamnya. Persis seperti penjajah yang memperlakukan pribumi, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Atas dasar refleksi dan evaluasi situasi dan kondisi kebangsaan itu, maka lahirlah sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) bertajuk Gerakan Rakyat (GR). Berangkat dari keprihatinan terhadap fenomena sekaligus bencana tirani konstitusi dan demokrasi yang menyelimuti kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gerakan Rakyat yang linear dengan tema perubahan, tak sekedar menghimpun dan mengorganisir aspirasi dan kehendak warga negara yang selama ini termarjinal dan terisolir dari hakikat kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Seperti layaknya mengurai benang kusut dan basah, begitulah Gerakan Rakyat menghadapi masalah negara yang dipenuhi perilaku destruktif pemerintahannya sendiri.

Gerakan Rakyat yang hadir di tengah-tengah realitas kelangkaan kinerja dan prestasi pemerintahan (goverment less) dan indikasi negara gagal (failed state). Justru dituntut untuk terus melakukan gerakan pembebasan yang mampu melahirkan kembali Indonesia, yang sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan keinginan luhur para pendiri bangsa.

Ikut mengupayakan dan memastikan berlangsungnya partisipasi publik seluas-luasnya yang mampu mengawal dan mengawasi peran negara, agar bisa menghadirkan keadilan dan kemakmuran dalam setiap aspek kehidupan semua anak bangsa. Menjadi tantangan sekaligus peluang dari keberadaan Gerakan Rakyat berkontribusi buat rakyat,negara dan bangsa.

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang konsern terhadap isu perubahan yang equivalen dengan masalah kepemimpinan nasional, sistem ketatanegaraan dan kebijakan publik. Gerakan rakyat juga diharapkan bisa leluasa melakukan peran “pressure and interest group” terhadap kebijakan negara yang berdimensi hulu dan hilir yang bermuara pada hajat hidup warga negara. Dalam konteks itu Gerakan Rakyat bisa memainkan fungsi intervensi terhadap pentingnya manifestasi “good will and political will” pemerintah khususnya dan dampak kebijakan negara yang pro rakyat pada umumnya.

Gerakan Rakyat yang linear dengan tema perubahan, tak sekedar menghimpun dan mengorganisir aspirasi dan kehendak warga negara yang selama ini termarjinal dan terisolir dari hakikat kedaulatan rakyat yang sesungguhnya.

Gerakan Rakyat yang hadir di tengah-tengah realitas kecenderungan kelangkaan kinerja dan prestasi pemerintahan (goverment less) dan indikasi negara gagal (failed state). Justru dituntut untuk terus melakukan gerakan pembebasan yang mampu melahirkan kembali Indonesia yang sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan keinginan luhur para pendiri bangsa.

Ikut mengupayakan dan memastikan berlangsungnya partisipasi publik seluas-luasnya agar bisa menghadirkan keadilan dan kemakmuran dalam setiap aspek kehidupan semua anak bangsa, menjadi tantangan sekaligus tujuan dari keberadaan Gerakan Rakyat.

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang konsern terhadap isu perubahan yang equivalen dengan masalah kepemimpinan nasional dan sistem ketatanegaraan serta kebijakan publik. Gerakan rakyat juga diharapkan bisa leluasa melakukan peran “pressure and interest group” terhadap kebijakan negara yang berdimensi hulu dan hilir yang bermuara pada hajat hidup warga negara. Dalam konteks itu Gerakan Rakyat bisa memainkan peran dalam fungsi pengawasan terhadap pentingnya “good will and political will” pemerintah khususnya dan dampak kebijakan negara pada umumnya

Revolusi Struktural dan Kultural

Tanggal 17 dan 18 Januari 2026, Gerakan Rakyat untuk pertama kali melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas I) yang dilangsungkan di hotel Aryaduta, Jakarta Pusat.
Dengan mengusung tema Kedaulatan Ekologis dan Kembalikan Hutan Indonesia, sepertinya Gerakan rakyat bukan hanya mampu mengambil isu strategis. Namun juga cerdas mengemas persoalan teknis tapi tidak bisa dipisahkan dari substansi persoalan negara yang sistemik dan komprehensif.

Seakan Gerakan Rakyat melalui Rakernas ingin mengingatkan dan menggugah pemerintah untuk melakukan solusi dan resolusi akibat penyimpangan kebijakan lingkungan dan ekosistem di dalamnya. Bukan hanya mendatangkan “outcame” buruk yakni kerusakan alam dan bencana. Perampokan dan penjarahan hutan berkolerasi kuat dengan praktik-praktik KKN, politik dinasti dan dominasi oligarki.

Menyadari bangsa Indonesia yang sudah mengalami kemunduran keadaban karena tajamnya pergeseran hidup masyarakatnya dari nilai-nilai ke materialisme. Tak bisa dipungkiri bahwasanya perilaku menyimpang, penyalahgunaan wewenang dan kejahatan sudah menjadi permisif, juga terjadi di pelbagai lapisan sosial mulai dari kalangan elit dan kelas menengah hingga pada masyarakat akar rumput.

Berpijak pada atmosfir politik, ekonomi dan hukum yang keruh dan menjadi wajah gelap Indonesia secara keseluruhan. Gerakan Rakyat tentunya harus mengambil langkah cerdas, tegas, cepat dan akurat demi menghidupkan organisasi dan cita-cita bersama menuju perubahan Indonesia yang lebih baik, bersama elemen kekuatan rakyat lainnya.

Rakernas I Gerakan Rakyat yang diselenggarakan dalam suasana diliputi degradasi dan keniscayaan Indonesia, selayaknya dapat membahas, merumuskan dan menetapkan gagasan-gagasan yang kuat dalam wilayah konseptual dan praksis. Menyebarkan seluas-luasnya pikiran yang mencerahkan dan membangun kesadaran rakyat, menjadi gerakan yang terbatas oleh faktor materi dan kebendaan lainnya. Begitupun kapitalisme tak selalu menjadi penjaga moral dari setiap karya.

Pada akhirnya, selamat dan sukses penyelenggaraan Rakernas I Gerakan Rakyat. Sebuah pikiran yang progresif dapat mengubah jalannya sejarah. Tak ada faktor utama yang dapat menguasai dunia selain kekuatan gagasan. Jika revolusi sulit dilakukan mulailah dengan menjebol bangunan sosial yang sudah rusak dan hancur lalu bangun kembali. Jika sulit menjebol bangunan rusak dan hancur untuk kemudian membangun kembali. Lakukan revolusi sosial dalam ranah kultural dan struktural, bahkan hanya dari sekedar keberanian untuk melepaskan pikiran-pikiran pembebasan.

Kemerdekaan berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, dan kemampuan untuk tidak tunduk pada materi dan kekuasaan, menjadi kekuatan Gerakan Rakyat yang mampu melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi Indonesia.

Semoga.

Bekasi Kota Patriot.
28 Rajab 1447 H/17 Januari 2026.

Tags: Dekonstruksi dan Rekonstruksi IndonesiaDemokrasi Indonesia hari iniGerakan perubahan IndonesiaGerakan RakyatKedaulatan RakyatKrisis demokrasi IndonesiaRakernas I Gerakan RakyatTirani konstitusi
ShareTweetPin
Rotasi

Rotasi

ROTASI.CO.ID adalah portal media online yang menyediakan beragam berita secara update, faktual dan aktual.

Related Posts

Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia
Opini

Sahrin Hamid Mundur dari Komisaris Jakpro, Sebuah Embrio Etika dan Moral Budaya Partai Politik

January 22, 2026
11 Januari 1966, Mahasiswa Gaungkan Tritura di Jakarta
Opini

11 Januari 1966, Mahasiswa Gaungkan Tritura di Jakarta

January 11, 2026
Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat
Opini

Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat

December 11, 2025
Data Kemiskinan Indonesia Diperdebatkan, Bank Dunia vs BPS Picu Polemik Publik
Opini

Data Kemiskinan Indonesia Diperdebatkan, Bank Dunia vs BPS Picu Polemik Publik

September 6, 2025
Fajar Sadboy Mengajari Para Elit Turunkan Saya
Opini

Fajar Sadboy Mengajari Para Elit Turunkan Saya

September 2, 2025
Perempuan Bekasi: Pewaris Api Kartini dalam Pembangunan Kota Patriot
News

Perempuan Bekasi: Pewaris Api Kartini dalam Pembangunan Kota Patriot

April 26, 2025
Next Post
Menteri Nusron Wahid Pastikan Kepastian Hak Atas Tanah Masyarakat Terdampak Bencana di DPR

Menteri Nusron Wahid Pastikan Kepastian Hak Atas Tanah Masyarakat Terdampak Bencana di DPR

BMKG Gandeng Tomorrow Indonesia Kembangkan Prakiraan Cuaca Melalui AI

BMKG Gandeng Tomorrow Indonesia Kembangkan Prakiraan Cuaca Melalui AI

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Artikel

  • Wahyu B.K Resmi Pimpin LPM Kota Bekasi: Komitmen Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah

    Wahyu B.K Resmi Pimpin LPM Kota Bekasi: Komitmen Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Layanan Bus Trans Beken Resmi Meluncur, Gratis Satu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ATR/BPN Buka Akses Peta Pertanahan Publik Melalui Geoportal Bhumi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kantor BRI Unit Wisma Asri Pindah Alamat Mulai 26 Mei 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Artikel Terbaru

Menteri Nusron Wahid Serahkan Sertipikat Tanah Wakaf dan Ajak NU Perkuat Kemanfaatan Umat

Menteri Nusron Wahid Serahkan Sertipikat Tanah Wakaf dan Ajak NU Perkuat Kemanfaatan Umat

April 19, 2026
Menteri Nusron Wahid Siapkan 37.709 Hektare Lahan Potensial Guna Dukung Program 3 Juta Rumah

Menteri Nusron Wahid Siapkan 37.709 Hektare Lahan Potensial Guna Dukung Program 3 Juta Rumah

April 17, 2026
Kementerian ATR/BPN Uji Coba Layanan Pengukuran Terjadwal di 38 Kantor Pertanahan Guna Percepat Layanan

Kementerian ATR/BPN Uji Coba Layanan Pengukuran Terjadwal di 38 Kantor Pertanahan Guna Percepat Layanan

April 16, 2026
Kementerian ATR/BPN Catat 126,55 Juta Bidang Tanah Terdaftar Melalui PTSL Hingga April 2026

Kementerian ATR/BPN Catat 126,55 Juta Bidang Tanah Terdaftar Melalui PTSL Hingga April 2026

April 15, 2026
Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

April 14, 2026

Rotasi.co.id merupakan media online yang menyajikan artikel secara faktual dan aktual sebagai roda berita dan informasi.

Pilihan Editor

Menteri Nusron Wahid Serahkan Sertipikat Tanah Wakaf dan Ajak NU Perkuat Kemanfaatan Umat

Menteri Nusron Wahid Siapkan 37.709 Hektare Lahan Potensial Guna Dukung Program 3 Juta Rumah

Katagori

  • Bisnis
  • Budaya
  • Cek Fakta
  • Ekonomi
  • Finansial
  • Gaya Hidup
  • Hukum
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kronika
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Mozaik
  • News
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ramadhan
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Wisata

Tentang Kami

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

© 2024 ROTASI.CO.ID | All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kategori
    • News
    • Opini
    • Bisnis
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Politik
    • Hukum
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Mozaik
    • Gaya Hidup
    • Wisata
    • Teknologi
    • Internasional
    • Cek Fakta
    • Puisi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami

© 2024 ROTASI.CO.ID | All Right Reserved.