Rotasi.co.id – Aksi mahasiswa yang mengusung Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) menguat di Jakarta pada 11 Januari 1966 sebagai bentuk tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Soekarno di tengah krisis ekonomi dan ketegangan nasional pascaperistiwa 1965.
Gerakan mahasiswa tersebut dipelopori berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, terutama yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Tritura memuat tiga tuntutan utama, yakni pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), pembersihan kabinet dari unsur-unsur yang terlibat Gerakan 30 September 1965, serta penurunan harga kebutuhan pokok yang kian membebani rakyat.
Aksi demonstrasi berlangsung di sejumlah titik strategis Ibu Kota, termasuk kawasan sekitar gedung-gedung pemerintahan.
Para mahasiswa menilai pemerintah saat itu gagal mengatasi krisis ekonomi nasional yang ditandai dengan inflasi tinggi, merosotnya daya beli masyarakat, serta kelangkaan barang kebutuhan pokok.
Dalam berbagai aksi, mahasiswa menyuarakan tuntutan secara terbuka dan lantang. Salah satu seruan yang kerap disampaikan dalam demonstrasi tersebut berbunyi, “Kabinet harus dibersihkan dari unsur yang terlibat G30S dan rakyat harus diselamatkan dari krisis ekonomi,” sebagaimana tercatat dalam berbagai dokumen sejarah pergerakan mahasiswa 1966.
Menguatnya aksi Tritura pada pertengahan Januari 1966 menandai eskalasi tekanan politik terhadap Presiden Soekarno. Situasi keamanan dan politik nasional semakin tidak stabil, sementara peran militer khususnya Angkatan Darat kian dominan dalam menjaga ketertiban dan merespons dinamika politik yang berkembang.
Rangkaian aksi Tritura kemudian menjadi bagian penting dalam proses perubahan kekuasaan nasional. Tekanan politik yang terus meningkat akhirnya berujung pada terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), yang menjadi titik awal peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto.
Peristiwa Tritura 1966 hingga kini dikenang sebagai salah satu momentum bersejarah dalam perjalanan politik Indonesia, sekaligus menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai kekuatan moral dan sosial dalam dinamika perubahan bangsa. (*)













