ROTASI
No Result
View All Result
  • Login
  • News
  • Opini
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Politik
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Internasional
Trending
ROTASI TV
  • News
  • Opini
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Politik
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Internasional
No Result
View All Result
ROTASI
No Result
View All Result
  • News
  • Opini
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Politik
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Internasional
Home Opini

Data Kemiskinan Indonesia Diperdebatkan, Bank Dunia vs BPS Picu Polemik Publik

Rotasi by Rotasi
September 6, 2025
Reading Time: 3 mins read
0
Data Kemiskinan Indonesia Diperdebatkan, Bank Dunia vs BPS Picu Polemik Publik

Rotasi.co.id – Bank Dunia memprediksi jumlah penduduk miskin Indonesia melonjak drastis menjadi 194,6 juta jiwa jika menggunakan standar garis kemiskinan global terbaru.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024 yang mencatat hanya 24,06 juta orang miskin.

Dikutip BBC, Perbedaan metodologi perhitungan ini menimbulkan polemik besar di publik, bahkan memunculkan pertanyaan: manakah yang lebih realistis dalam menggambarkan kondisi kemiskinan Indonesia saat ini?

Bank Dunia melalui laporan Poverty and Inequality Platform edisi Juni 2025 mengumumkan bahwa perhitungan garis kemiskinan global kini menggunakan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) 2021, menggantikan PPP 2017.

Dengan perubahan itu, ambang batas garis kemiskinan meningkat di seluruh kategori negara. Untuk kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle income), garis kemiskinan naik dari US$3,65 menjadi US$4,20 per hari.

Sementara untuk negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income) seperti Indonesia, batasnya berubah dari US$6,85 menjadi US$8,40 per hari.

Jika dikonversikan, US$1 PPP setara Rp5.993. Artinya, warga Indonesia yang memiliki pengeluaran di bawah Rp49.244 per hari atau Rp1,48 juta per bulan, dikategorikan miskin versi Bank Dunia.

Dengan standar ini, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 194,6 juta jiwa atau 68,2 persen dari total populasi 285,1 juta orang.

Standar BPS Dinilai Tidak Realistis

RELATED POSTS

Sahrin Hamid Mundur dari Komisaris Jakpro, Sebuah Embrio Etika dan Moral Budaya Partai Politik

Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia

11 Januari 1966, Mahasiswa Gaungkan Tritura di Jakarta

Sementara itu, BPS masih menggunakan metode cost of basic needs yang sudah dipakai sejak 1998.

Dalam pendekatan ini, garis kemiskinan ditentukan berdasarkan dua komponen: kebutuhan makanan setara 2.100 kilokalori per orang per hari, dan kebutuhan non-makanan meliputi perumahan, pendidikan, kesehatan, pakaian, hingga transportasi.

Berdasarkan hitungan BPS, seseorang dikategorikan miskin bila pengeluarannya di bawah Rp595.242 per kapita per bulan, atau sekitar Rp20.000 per hari.

Dengan acuan ini, jumlah orang miskin Indonesia pada September 2024 hanya 24,06 juta jiwa, setara 8,57 persen dari total penduduk.

Namun, sejumlah pakar menilai standar tersebut sudah tidak relevan.

“Kalau sekadar survive saja, orang Indonesia itu sangat mungkin bisa bertahan. Tapi standar Rp20.000 per hari jelas tidak merefleksikan kenyataan hidup di perkotaan saat ini,” ujar ekonom Bright Institute, Muhammad Andri Perdana.

Ia menegaskan, angka tersebut terlalu rendah dan berpotensi menutupi realitas beban hidup masyarakat.

Sementara itu. Ahmad Marzuki, seorang nelayan tradisional di Semarang, mengaku terkejut mendengar pemerintah masih menganggap Rp20.000 per hari cukup untuk kebutuhan hidup.

“Kalau negara bilang orang bisa hidup layak dengan Rp20.000, itu kejahatan namanya,” ungkap Marzuki.

Menurutnya, uang Rp20.000 hanya cukup untuk membeli satu kilogram beras, tanpa lauk, sayur, atau kebutuhan lain.

Marzuki yang berpenghasilan Rp2 juta–Rp2,5 juta per bulan merasa hidupnya jauh dari layak. Separuh penghasilannya habis untuk cicilan rumah, sisanya untuk biaya melaut, listrik, dan makan.

Ia bahkan kerap membeli kebutuhan sehari-hari yang hampir kedaluwarsa karena harganya lebih murah.

“Kalau mengacu Bank Dunia, jelas saya miskin. Tapi menurut data BPS, saya masuk kelas menengah. Itu lucu,” ujarnya dengan nada getir.

Kritik Akademisi dan BRIN

Yanu Endar Prasetyo, peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebut metodologi BPS sudah ketinggalan zaman.

“Metode yang dipakai BPS tidak berubah sejak 1998. Padahal pola konsumsi masyarakat sudah sangat berbeda. Kini pengeluaran non-makanan, seperti internet, pulsa, hingga cicilan, lebih dominan,” ujarnya.

Ia menilai garis kemiskinan nasional harus segera direvisi agar sejalan dengan status Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah-atas.

“Pengeluaran untuk kebutuhan non-makanan semakin besar. Jadi memang sudah saatnya diganti,” tambahnya.

Pandangan senada disampaikan ekonom Muhammad Andri Perdana. Menurutnya, daftar komponen non-makanan yang dipakai BPS masih sangat terbatas.

“Beberapa kebutuhan dasar seperti internet dan pulsa sama sekali tidak masuk dalam perhitungan garis kemiskinan. Padahal itu sudah jadi kebutuhan vital masyarakat,” tegasnya.

Rencana Pemerintah Merevisi Garis Kemiskinan

Menanggapi perdebatan ini, Presiden Prabowo Subianto mengakui masih banyak warga miskin di Indonesia. Ia berjanji pemerintah akan menurunkan angka kemiskinan sebelum 2045.

“Saya optimis kemiskinan bisa dihapus jauh sebelum 2045. Itu tekad saya,” kata Prabowo saat membuka acara Indonesia Defence 2025 di Jakarta.

Sementara itu, anggota Dewan Ekonomi Nasional, Arief Anshory Yusuf, mengungkapkan revisi garis kemiskinan nasional sedang disiapkan. Targetnya, perubahan metode ini rampung tahun 2025.

“Idealnya, garis kemiskinan kita ada di kisaran Rp750.000 hingga Rp1,5 juta per bulan, jika mengacu pada standar negara berpendapatan menengah,” jelas Arief.

Namun, ia mengingatkan, jika standar garis kemiskinan dinaikkan, jumlah penduduk miskin otomatis melonjak. Hal ini bisa berdampak negatif pada citra kinerja pemerintah.

“Prestasi pemerintah seakan buruk karena gagal menurunkan kemiskinan. Tapi di sisi lain, data yang lebih realistis justru membantu pemerintah membuat kebijakan lebih tepat sasaran,” ungkapnya.

Implikasi terhadap Kebijakan Publik

Pengamat menilai, data kemiskinan yang akurat sangat penting. Jika pemerintah tetap memakai standar lama, kebijakan penanggulangan kemiskinan bisa salah arah.

Misalnya, hanya berfokus pada penyaluran bantuan sosial tunai, tanpa menyelesaikan akar masalah berupa harga bahan pokok yang mahal.

“Kalau pemerintah punya data sahih, intervensi bisa lebih tepat. Misalnya, menurunkan harga beras atau gas elpiji agar terjangkau. Itu lebih menyentuh akar masalah ketimbang bantuan tunai,” ujar Andri.

Perdebatan garis kemiskinan versi Bank Dunia dan BPS memperlihatkan betapa pentingnya metodologi dalam menggambarkan realitas sosial-ekonomi.

Standar BPS yang sangat rendah dianggap menutupi kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat hidup dalam kondisi rentan.

Sementara standar Bank Dunia yang lebih tinggi memunculkan angka kemiskinan yang jauh lebih besar, namun diyakini lebih mendekati realitas.

Kini, publik menunggu langkah pemerintah dalam merevisi garis kemiskinan nasional. Apakah pemerintah akan berani menggunakan standar yang lebih realistis, meskipun konsekuensinya angka kemiskinan melonjak, atau tetap bertahan dengan standar lama yang lebih “aman” bagi citra pembangunan?

Tags: : garis kemiskinan Indonesiaangka kemiskinan terbaruBPSdata kemiskinan nasionalkemiskinan ekstremkemiskinan Indonesia 2025revisi garis kemiskinanstandar Bank Dunia
ShareTweetPin
Rotasi

Rotasi

ROTASI.CO.ID adalah portal media online yang menyediakan beragam berita secara update, faktual dan aktual.

Related Posts

Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia
Opini

Sahrin Hamid Mundur dari Komisaris Jakpro, Sebuah Embrio Etika dan Moral Budaya Partai Politik

January 22, 2026
Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia
Opini

Gerakan Rakyat: Misi Dekonstruksi dan Rekonstruksi Indonesia

January 19, 2026
11 Januari 1966, Mahasiswa Gaungkan Tritura di Jakarta
Opini

11 Januari 1966, Mahasiswa Gaungkan Tritura di Jakarta

January 11, 2026
Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat
Opini

Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat

December 11, 2025
Fajar Sadboy Mengajari Para Elit Turunkan Saya
Opini

Fajar Sadboy Mengajari Para Elit Turunkan Saya

September 2, 2025
Perempuan Bekasi: Pewaris Api Kartini dalam Pembangunan Kota Patriot
News

Perempuan Bekasi: Pewaris Api Kartini dalam Pembangunan Kota Patriot

April 26, 2025
Next Post
LIN Bekasi Kritik Tunjangan Perumahan DPRD di Tengah Krisis Ekonomi Warga

LIN Bekasi Kritik Tunjangan Perumahan DPRD di Tengah Krisis Ekonomi Warga

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan Sesuai Tuntunan Syekh Nawawi Al-Bantani

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan Sesuai Tuntunan Syekh Nawawi Al-Bantani

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Artikel

  • Wahyu B.K Resmi Pimpin LPM Kota Bekasi: Komitmen Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah

    Wahyu B.K Resmi Pimpin LPM Kota Bekasi: Komitmen Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Layanan Bus Trans Beken Resmi Meluncur, Gratis Satu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ATR/BPN Buka Akses Peta Pertanahan Publik Melalui Geoportal Bhumi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kantor BRI Unit Wisma Asri Pindah Alamat Mulai 26 Mei 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Artikel Terbaru

Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

April 14, 2026
Perumda Tirta Patriot Raih Penghargaan TOP BUMD Awards 2026 Bintang Lima

Perumda Tirta Patriot Raih Penghargaan TOP BUMD Awards 2026 Bintang Lima

April 14, 2026
Kementerian ATR/BPN Luncurkan Layanan Cek Sertipikat Tanah Digital Melalui Aplikasi Sentuh Tanahku

Kementerian ATR/BPN Luncurkan Layanan Cek Sertipikat Tanah Digital Melalui Aplikasi Sentuh Tanahku

April 14, 2026
Tutup TPS Ilegal Sriamur, Pemkab Bekasi Siapkan Lahan 4.700 Meter di TPA Burangkeng

Tutup TPS Ilegal Sriamur, Pemkab Bekasi Siapkan Lahan 4.700 Meter di TPA Burangkeng

April 14, 2026
Wahyu B.K Resmi Pimpin LPM Kota Bekasi: Komitmen Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah

Wahyu B.K Resmi Pimpin LPM Kota Bekasi: Komitmen Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Daerah

April 13, 2026

Rotasi.co.id merupakan media online yang menyajikan artikel secara faktual dan aktual sebagai roda berita dan informasi.

Pilihan Editor

Pasca Penggusuran, SMKN 1 Tambun Utara Butuh Ruang Kelas Baru Sebelum SPMB 2026

Perumda Tirta Patriot Raih Penghargaan TOP BUMD Awards 2026 Bintang Lima

Katagori

  • Bisnis
  • Budaya
  • Cek Fakta
  • Ekonomi
  • Finansial
  • Gaya Hidup
  • Hukum
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kronika
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Mozaik
  • News
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ramadhan
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Wisata

Tentang Kami

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

© 2024 ROTASI.CO.ID | All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kategori
    • News
    • Opini
    • Bisnis
    • Ekonomi
    • Budaya
    • Politik
    • Hukum
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Mozaik
    • Gaya Hidup
    • Wisata
    • Teknologi
    • Internasional
    • Cek Fakta
    • Puisi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami

© 2024 ROTASI.CO.ID | All Right Reserved.