Rotasi.co.id – Ghirass Foundation, organisasi kemanusiaan internasional asal Lebanon, menyampaikan laporan terkini mengenai krisis kemanusiaan di Gaza, Palestina, setelah 711 hari genosida Israel berlangsung.
Dalam kunjungannya ke Indonesia, Ghirass menegaskan kondisi Gaza semakin mengkhawatirkan akibat banyaknya korban jiwa, runtuhnya fasilitas kesehatan, serta tertahannya distribusi bantuan kemanusiaan.
Executive Director Ghirass Foundation, Haitham Mahmoud, menyatakan bahwa kebebasan pers di Gaza juga menjadi korban. Data Ghirass mencatat 251 jurnalis tewas, 429 mengalami luka berat, dan 48 ditahan oleh Israel.
“Ini preseden buruk bagi dunia internasional, sebab wartawan yang seharusnya dilindungi justru dijadikan target serangan,” ujar Haitham dalam Media Briefing bertema Update Situasi Gaza Palestina di Menara Dakwah, Jakarta dalam keterangannya pada Selasa (16/9/2025).
Haitham mengungkapkan 90 persen rumah sakit di Gaza hancur akibat serangan. Kini hanya tersisa enam rumah sakit yang masih beroperasi dengan keterbatasan tenaga medis, obat-obatan, dan ruang perawatan.
“Bayangkan betapa sulitnya warga mendapatkan layanan kesehatan ketika rumah sakit yang ada nyaris tak mampu menampung pasien,” jelasnya.
Menurut laporan Ghirass, ratusan ribu warga Gaza meninggal dunia, mayoritas perempuan dan anak-anak. Banyak perempuan menjadi janda dan ribuan anak menjadi yatim piatu.
“Sebagian keluarga bahkan terpaksa mencari pengobatan ke luar negeri karena fasilitas di Gaza sudah tidak memadai,” ungkapnya.
Ghirass juga mencatat 650 ribu anak-anak berisiko meninggal akibat malnutrisi dan kelaparan. Bahkan, terdapat 40 ribu bayi di bawah usia satu tahun nyaris kehilangan nyawa karena tidak memperoleh susu formula.
“Kebutuhan susu formula di Gaza mencapai 250 ribu unit per bulan, tetapi akses distribusi tertutup Akiba blokade Israel,” papar Haitham.
Lebih dari 111.600 paket bantuan pangan, obat-obatan, dan perlengkapan medis dilaporkan tidak dapat masuk ke Gaza. Haitham menegaskan, blokade Israel semakin memperburuk penderitaan warga sipil.
“Blokade ini menutup jalur bantuan kemanusiaan dan mengancam kehidupan anak-anak serta perempuan yang paling rentan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Ghirass Foundation menyerukan agar dunia internasional segera mengambil langkah nyata menghentikan krisis kemanusiaan.
“Gaza membutuhkan perhatian serius. Tanpa tekanan global, penderitaan rakyat Palestina akan terus berlanjut,” pungkasnya. (*)














