Rotasi.co.id — Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, ditutup melemah sebagai dampak meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat ancaman kebijakan tarif Amerika Serikat serta sikap investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp16.887 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap mata uang negara berkembang.
Pengamat pasar mata uang dan aset digital, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa.
“Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Delapan negara Eropa yang menjadi sasaran kebijakan tarif tersebut yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Ancaman ini dikaitkan dengan sikap negara-negara tersebut yang menentang rencana Washington untuk mengakuisisi wilayah Greenland.
Pengumuman tersebut memicu kritik keras dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.
Mengutip laporan Anadolu pada Senin (19/1/2025), Dewan Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan luar biasa dalam beberapa hari ke depan untuk membahas rencana kebijakan tarif Amerika Serikat tersebut.
Selain faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sikap hati-hati investor terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Keraguan muncul terkait peluang Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali sepanjang tahun ini.
“Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. Ini menunjukkan pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” jelas Ibrahim.
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat melemah ke level Rp16.935 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.880 per dolar AS.
Kondisi ini menegaskan bahwa pergerakan rupiah masih sangat sensitif terhadap dinamika global, terutama kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik internasional yang memengaruhi sentimen pasar keuangan. (*)














