Rotasi.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 55 poin atau 0,32 persen ke level Rp17.035 pada penutupan perdagangan Senin (06/04/2026).
Penurunan dari posisi sebelumnya di level Rp16.980 ini dipicu oleh kekhawatiran investor global terhadap tenggat waktu ancaman Presiden AS, Donald Trump, yang mendesak Iran untuk segera membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini tengah fokus pada dinamika di Teluk menyusul peringatan keras dari Gedung Putih. Donald Trump menetapkan batas waktu bagi Iran untuk mengaktifkan kembali lalu lintas kapal tanker di jalur air tersebut guna menghindari eskalasi militer lebih lanjut.
“Presiden Trump pada Minggu (5/4/2026) memperingatkan bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz paling lambat hari Selasa (7/4/2026). Tenggat waktu pukul 8 malam waktu bagian timur telah ditetapkan untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.
Melalui platform Truth Social, Trump mengancam akan menyerang infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila blokade tidak segera dibuka.
Di sisi lain, Juru Bicara Presiden Iran, Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei, merespons bahwa transit hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk kompensasi kerusakan perang. Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak mentah yang memperburuk proyeksi inflasi global.
“Meningkatnya kembali harga minyak mentah memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan. Biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika selat tetap diblokir,” tambah Ibrahim.
Kondisi ini turut berdampak pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang tercatat melemah ke level Rp17.037 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.015.
Selama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih tinggi, nilai tukar rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan seiring dengan pergeseran aset investor ke instrumen safe haven seperti dolar AS. (*)














