Rotasi.co.id – Pemerintah Kota Bekasi menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat musim kemarau yang mulai memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, upaya antisipasi kekeringan difokuskan pada efisiensi penggunaan air, optimalisasi sumber air baku, serta penguatan cadangan air agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Waktu yang paling utama adalah kita melakukan efisiensi betul terkait dengan penggunaan air yang ada,” kata Tri, Senin (20/6/2026).
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Bekasi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih bijak menggunakan air bersih.
Menurutnya, penghematan konsumsi air menjadi langkah paling efektif untuk menjaga ketersediaan pasokan, terutama ketika debit air sungai maupun sumber air lainnya mengalami penurunan akibat kemarau panjang.
“Yang pertama tentu yang paling utama adalah kita efisiensikan betul terkait dengan penggunaan air yang ada,” ujarnya.
Selain mengedepankan efisiensi, Pemerintah Kota Bekasi juga mengoptimalkan berbagai sumber air baku guna menjaga kelancaran distribusi air bersih kepada pelanggan Perumda Tirta Patriot.
Langkah tersebut dilakukan agar pelayanan air minum kepada masyarakat tetap berjalan meski kondisi kemarau berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
“Yang kedua adalah tentu kita mencari sumber-sumber air baku yang harus kita optimalkan agar distribusi air buat warga masyarakat yang hari ini ter-cover oleh PDAM itu tetap terlayani,” ungkap Tri.
Selain itu, Pemerintah Kota Bekasi juga mengandalkan infrastruktur konservasi air yang telah dibangun sejak 2022 sebagai bagian dari mitigasi kekeringan.
Program pembangunan sumur resapan dan biopori dinilai mampu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah sekaligus menjadi cadangan air pada musim kemarau.
“Mudah-mudahan apa yang sudah kita inisiasi sejak 2022, kita banyak membangun sumber-sumber resapan dan juga biopori yang sekarang sedang kita kembangkan itu mampu menjadi satu bentuk cadangan air yang hari ini kita miliki,” jelasnya.
Selain sumur resapan dan biopori, Pemkot Bekasi turut memanfaatkan keberadaan folder-folder air sebagai infrastruktur penampungan yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat ketika pasokan mengalami penurunan.
Tri Adhianto juga menilai keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu cadangan strategis dalam menjaga ketahanan sumber daya air daerah.
“Folder-folder air yang kita miliki juga mudah-mudahan menjadi satu cadangan di dalam rangka proses hari ini kebutuhan terkait dengan air bersih,” paparnya.
Menanggapi kondisi Kali Bekasi yang mulai mengalami penyusutan debit air selama musim kemarau, Tri menyampaikan percepatan normalisasi sungai harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis.
Ia menyebut, pekerjaan normalisasi tidak hanya berkaitan dengan pengerukan sedimentasi, tetapi juga peningkatan kapasitas tanggul agar mampu mengurangi risiko banjir ketika musim penghujan kembali datang.
“Kalau soal itu kan berpacu dengan waktu, tidak saja terkait dengan sedimentasinya tetapi juga terkait dengan bagaimana mengoptimalisasikan peninggian daripada tanggul-tanggul yang ada,” pungkasnya. (*)














