ROTASI.CO.ID – Siapa sangka bahwa limbah tempurung kelapa bisa diolah menjadi kerajinan bernilai jutaan rupiah. Inilah sosok inspiratif yang merupakan warga asli Papua, Yane Maria Nari (55), seorang mama asli Papua yang telah lebih dari 20 tahun lalu menekuni kerajinan daur ulang sampah dari limbah kertas dan plastik.
Penjualan kerajinan tempurung kelapa yang dikerjakan oleh Mama Yane dan kelompoknya yang kebanyakan mendapatkan pesanan melalui facebook “Kobek Millenial Papua”. Dalam kelompok Kobek Millenial Papua, Mama Yane dibantu oleh 5 orang yang terdiri dari sanak keluarganya untuk memproduksi kerajinan tempurung kelapa sekaligus menjual hasil kerajinannya.
“Harga produk yang dipatok untuk setiap hasil kerajinannya, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 2 jutaan. Total omzet atau penjualan dari sejak didampingi Pertamina dari tahun 2019 hingga saat ini telah mencapai puluhan jutaan rupiah,” ucapnya.
Mama Yane menceritakan, kerajinan dari tempurung kelapa tidak membutuhkan modal yang besar. Apalagi pembuatan kerajinan ini relatif mudah dan ramah lingkungan. Selama ini, limbah tempurung kelapa didapatkan dari penjual kelapa di Koya, salah satu daerah yang terkenal dengan sentra pertanian dan perkebunan di Kota Jayapura.
“Tempurung kelapa yang diambil dibeli dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per buah agar menjaga kualitas bahan tempurung kelapa. Dari bahan baku limbah tempurung kelapa tersebut, dihasilkan beberapa produk misalnya alat makan dan minum dari tempurung kelapa, yang dijual dengan harga mulai Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu per set,”ujarnya.
Sementara itu, Mama Yane juga memproduksi lampu hias dari tempurung kelaoa seharga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta tergantung besar dan kecilnya lampu hias yang dibuatnya.Dengan semangat, Mama Yane terus mengajarkan pemanfaatan limbah sampah dan menghasilkan keuntungan bagi keberlangsungan hidup sehari-hari bagi masyarakat sekitarnya.
Hasil kerja keras Mama Yane akhirnya berbuah manis. Kelompok Kobek Milenial Papua telah mengantongi pemesanan cinderamata untuk kebutuhan PON XX yang rencananya diselenggarakan tahun 2021 di Papua.
“Pelan-pelan pesanan ini akan kami kerjakan, agar para tamu bisa membawa cinderamata hasil karya anak asli Papua,” tandasnya (dyt)













