Rotasi.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (3/12) malam menelusuri lahan di sepanjang rute Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh untuk mengidentifikasi dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Penelusuran ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemetaan awal terhadap aset-aset yang diduga berkaitan dengan penyimpangan anggaran.
“Kami lebih mendalami lokasi-lokasi di sepanjang rute rel kereta itu karena jumlahnya banyak,” ujar Ketua KPK Setyo Budiyanto di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Setyo menjelaskan bahwa tim penyidik melakukan pengelompokan area berdasarkan posisi dan luas lahan yang berada di sekitar jalur rel. Pengelompokan dilakukan untuk memudahkan proses penelusuran dan memastikan lokasi yang dianggap strategis dapat diperiksa lebih detail.
“Kami mengelompokkan lokasi yang berada dekat rute, terutama yang areanya sangat luas,” katanya.
Ia menambahkan bahwa KPK saat ini juga mendalami status lahan di dekat Stasiun Halim, khususnya terkait keterkaitannya dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU). Penelusuran status kepemilikan dilakukan karena informasi yang diterima masih bersifat sementara dan membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.
“Kami sedang dalami apakah tanah di Halim itu milik TNI AU atau bukan. Ini belum pasti,” jelas Setyo.
Sebelumnya, mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengungkap dugaan adanya penggelembungan anggaran atau mark up dalam proyek Whoosh melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada 14 Oktober 2025.
“Hitungan Indonesia menyebut biaya per kilometer mencapai 52 juta dolar AS, sementara di China hanya 17–18 juta dolar AS,” kata Mahfud.
Mahfud menilai perbedaan biaya yang mencapai tiga kali lipat perlu ditelusuri secara serius untuk mengetahui pihak yang bertanggung jawab. Ia menegaskan pentingnya transparansi dalam proyek strategis nasional tersebut.
“Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Itu mark up dan harus diteliti,” ujarnya.
Pada 16 Oktober 2025, KPK meminta Mahfud untuk membuat laporan resmi terkait dugaan tersebut. Sejak itu, keduanya beberapa kali saling memberi respons hingga Mahfud menyatakan kesiapannya memberikan keterangan kepada KPK pada 26 Oktober 2025.
“Saya siap dipanggil untuk memberikan keterangan soal dugaan korupsi Whoosh,” tegas Mahfud.
KPK sebelumnya mengumumkan bahwa dugaan korupsi terkait proyek Whoosh telah naik ke tahap penyelidikan sejak awal 2025. Proses ini mencakup pengumpulan fakta awal, pendalaman data anggaran, serta penelusuran aset yang diduga berkaitan dengan penyimpangan.
“Kasus Whoosh sudah masuk tahap penyelidikan sejak awal 2025,” pungkasnya. (*)














