Rotasi.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), perangkat daerah, perwakilan sekolah, serta masyarakat menggelar Sekolah Lapang Gempabumi (SLG).
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi yang dapat mengancam wilayah Kota Bekasi.
Dalam kegiatan tersebut, BMKG mengingatkan bahwa Kota Bekasi termasuk salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan terhadap gempa bumi akibat pengaruh sesar aktif yang berada di wilayah Jawa Barat.
Edukasi mitigasi dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa maupun kerusakan apabila bencana terjadi.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu mengatakan Kota Bekasi berpotensi menerima dampak gempa yang berasal dari aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat.
“Bekasi berpotensi terdampak gempa dari Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat dengan magnitudo maksimal mencapai M6,9. Karena itu, langkah mitigasi harus diperkuat,” ujar Ayu di Pondok Pesantren Maslakul Irfan, Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, ancaman gempa tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan kebencanaan menjadi salah satu strategi utama dalam membangun budaya sadar bencana.
“Sekolah Lapang Gempabumi merupakan sarana edukasi yang efektif untuk memberikan pemahaman mengenai karakteristik gempa bumi, langkah penyelamatan diri, hingga prosedur evakuasi yang tepat saat terjadi guncangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko, menyampaikan bahwa pelaksanaan SLG merupakan bagian dari program pemerintah pusat dalam memperluas edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat.
Ia menilai kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran publik terhadap ancaman gempa semakin meningkat.
“Gedung-gedung lama perlu dicek kembali kelayakannya, sementara bangunan baru harus memenuhi standar agar lebih aman terhadap potensi bencana,” ungkap Sudjatmiko.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap bencana menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko kerusakan saat gempa terjadi.
“Selain itu, sejumlah usulan pembangunan dari Pemerintah Kota Bekasi juga telah disampaikan kepada pemerintah pusat dan sebagian telah masuk dalam program nasional,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bekasi melalui BPBD terus memperkuat upaya mitigasi melalui program edukasi kebencanaan yang menyasar berbagai lapisan masyarakat.
Program tersebut tidak hanya diberikan kepada pelajar, tetapi juga komunitas warga hingga pengelola pusat perbelanjaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Bekasi, Wiratma Puspita, mengatakan pihaknya memiliki program edukasi bertajuk Eflash yang secara rutin memberikan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.
“Program ini kami laksanakan di sekolah, kelompok masyarakat, hingga pusat perbelanjaan. Bahkan pelatihan dapat dilakukan langsung di lokasi sesuai permintaan warga,” jelas Wiratma.
Selain memberikan edukasi, BPBD juga melakukan pemantauan visual terhadap bangunan dan fasilitas publik guna memastikan kesiapan sarana keselamatan saat terjadi keadaan darurat.
Pemeriksaan dilakukan terhadap struktur bangunan, jalur evakuasi, hingga rambu-rambu keselamatan.
“Kami mengecek keberadaan kolom struktur dan rambu evakuasi agar masyarakat mengetahui jalur penyelamatan saat gempa terjadi,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara BMKG, BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat, upaya mitigasi bencana diharapkan semakin kuat.
Peningkatan literasi kebencanaan serta kepatuhan terhadap standar bangunan tahan gempa menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko dampak gempa bumi di Kota Bekasi pada masa mendatang. (*)












