Rotasi.co.id – Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) memperkuat sinergi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam upaya meningkatkan akurasi sistem peringatan dini banjir berbasis masyarakat.
Pertemuan strategis berlangsung di Kantor Pusat BMKG Jakarta, dengan fokus pembahasan pada efektivitas sistem yang telah dikembangkan KP2C selama lebih dari dua dekade.
Ketua KP2C, Puarman, memaparkan capaian sistem peringatan dini yang mereka bangun sejak 2004. Sistem ini dinilai berhasil karena mampu mencegah jatuhnya korban jiwa meskipun banjir ekstrem sempat mencapai tinggi muka air (TMA) hingga 4 meter.
“Anggota KP2C saat ini berjumlah 32.000 orang, semuanya merupakan warga terdampak luapan Sungai Cileungsi, Cikeas, dan Kali Bekasi,” jelas Puarman dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (10/7/2025).
Pertemuan menghasilkan kesepakatan untuk menjalin kolaborasi data antara KP2C dan BMKG. Salah satu bentuk kerja sama adalah membuat korelasi antara curah hujan di wilayah hulu dengan potensi kenaikan TMA di kawasan rawan banjir.
“Dengan adanya kolaborasi ini, kita akan mengetahui potensi banjir lebih dini dibanding sebelumnya,” tegas Puarman penuh optimisme.
Sementara itu, dalam pertemuan ini merupakan kelanjutan dari audiensi sebelumnya antara KP2C dan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, yang berlangsung pada 26 Juni 2025.
Dalam audiensi tersebut, KP2C mempresentasikan inisiatif komunitas dalam pengembangan sistem mitigasi banjir berbasis partisipasi masyarakat di wilayah Bogor dan Bekasi.
Lilik menyampaikan apresiasinya terhadap KP2C, menyebut sistem yang mereka bangun sebagai role model nasional dalam pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas.
“KP2C telah membuktikan bahwa penanggulangan bencana bisa dilakukan dari akar rumput, dengan sistem informasi yang partisipatif dan inklusif,” pungkasnya. (*)













