Rotasi.co.id – Pernyataan kontroversial dari kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, yang menyebut mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memenuhi syarat menjadi nabi, menuai kecaman keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ungkapan tersebut disampaikan Dedy melalui platform media sosial X (dulu Twitter) pada Senin, 9 Juni 2025 lalu, dan dinilai menyesatkan serta berpotensi merusak akidah umat Islam.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Hukum, KH DR Ikhsan Abdullah, mengecam keras pernyataan tersebut. Ia mempertanyakan kewarasan Dedy dan menganggap pernyataan itu telah melewati batas.
“Apakah yang bersangkutan sehat akal atau sedang tidak waras?” ujar KH Ikhsan dalam keterangannya pada Jumat (13/5/2025).
KH Ikhsan, yang juga dikenal sebagai Founder Indonesia Halal Watch, menambahkan bahwa apabila seseorang menyatakan seolah masih terbuka kemungkinan hadirnya nabi setelah Nabi Muhammad SAW, maka secara terang benderang orang tersebut telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan akidah, bahkan dapat dikategorikan sebagai murtad.
“Politisi harus bijak dalam berbicara dan paham kultur masyarakat Indonesia yang sangat religius,” tegasnya.
KH Ikhsan menilai pujian berlebihan atau hiperbolis terhadap tokoh politik, apalagi dengan menyandingkannya pada derajat kenabian, sangat tidak tepat.
Hal tersebut berpotensi memicu kegaduhan sosial dan menyinggung perasaan keagamaan umat Islam di Indonesia.
“Jangan sampai memuji seseorang dengan cara yang menyesatkan dan melecehkan ajaran agama,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, sebagaimana tertulis dalam Surat Al-Ahzab ayat 40.
“Muhammad adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Ungkapan ‘Khataman Nabiyyin’ menegaskan tak ada nabi setelah beliau,” jelas KH Ikhsan.
Sebelumnya, cuitan Dedy bermula dari pernyataannya bahwa Jokowi adalah sosok yang dekat dengan rakyat, lalu ia membalas komentar netizen dengan mengatakan:
“Jadi nabi pun sebenarnya beliau ini sudah memenuhi syarat. Cuman sepertinya beliau menikmati menjadi manusia biasa dengan senyum selalu lebar ketika bertemu rakyat,” isi cuitan tersebut.
Selain itu, Dedy juga menyebut berbagai upaya untuk menjatuhkan Jokowi tidak pernah berhasil, karena menurutnya mantan presiden tersebut adalah tokoh politik yang sulit dijatuhkan.
Pernyataan ini langsung menjadi perbincangan hangat di jagat maya, dengan banyak pihak yang menilai Dedy telah menyalahgunakan ruang publik dan mencampuradukkan pujian politik dengan aspek teologis yang seharusnya tidak dijadikan bahan opini sembarangan.
Seiring meluasnya kritik publik, banyak pihak mendesak PSI untuk segera memberi klarifikasi dan melakukan evaluasi internal terhadap kadernya.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari DPP PSI terkait pernyataan Dedy Nur Palakka yang telah viral dan memicu keresahan di kalangan umat Islam. (*)














