Rotasi.co.id – Ratusan pedagang daging sapi di berbagai pasar tradisional Kota Bekasi menghentikan aktivitas perdagangan secara serentak guna memprotes lonjakan harga beli daging yang dinilai telah melampaui batas kemampuan daya beli masyarakat.
Aksi mogok massal ini terpusat di Pasar Baru Bekasi Timur, yang kini menjadi simbol keresahan para pedagang kecil atas kondisi ekonomi yang kian menghimpit sejak awal tahun 2026.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, turun langsung ke lapangan untuk meninjau situasi serta menyerap aspirasi para pedagang yang terdampak. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (23/1/2026), deretan kios daging tampak tertutup rapat tanpa aktivitas jual beli sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakpastian harga di tingkat produsen.
“Pasar Baru Bekasi Timur ini merepresentasikan 11 pasar lainnya. Terdapat 319 kios daging yang hari ini melaksanakan aksi mogok,” ujar Tri Adhianto saat meninjau lokasi pasar.
Menurut Tri, aksi ini merupakan dampak nyata dari terjepitnya posisi pedagang di antara harga kulakan yang tinggi dan menurunnya minat beli konsumen.
Kenaikan harga daging sapi, baik lokal maupun impor, tidak diiringi dengan peningkatan ekonomi masyarakat, sehingga pedagang mengalami kerugian operasional yang signifikan.
“Pedagang tidak bisa menjual dengan harga tinggi karena pembeli sepi, sementara harga belinya dari pemasok juga sangat mahal. Ini posisi yang sangat sulit bagi mereka,” kata Tri menambahkan.
Sejumlah pedagang menyatakan bahwa penghentian aktivitas ini merupakan langkah terakhir setelah upaya penundaan mogok pada awal Januari lalu tidak membuahkan hasil. Mereka mengeluhkan ketiadaan ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang membuat harga di pasar bergerak liar tanpa payung hukum yang melindungi pedagang di lapisan bawah.
“Kalau terus berjualan, kami rugi. Lebih baik tutup dulu. Ini adalah jeritan kami sebagai pedagang kecil agar pemerintah segera bertindak,” ungkap salah seorang pedagang di Pasar Baru Bekasi Timur.
Menanggapi tuntutan tersebut, Wali Kota Bekasi berharap adanya intervensi dari pihak terkait untuk menambah pasokan daging ke pasar guna menekan harga agar kembali terjangkau. “Harapannya tentu pasokan daging ke pasar bisa diperbanyak, sehingga harga dapat ditekan dan kembali stabil,” ucap Tri.
Jika langkah konkret tidak segera diambil, aksi mogok dikhawatirkan akan meluas dan berdampak langsung pada stabilitas ketersediaan pangan serta ketahanan ekonomi masyarakat di Kota Bekasi. (*)














