Rotasi.co.id – Alunan mesin jahit terdengar lirih namun konsisten, mengisi ruang kecil yang dipenuhi gulungan benang berwarna-warni. Di sanalah Moh Sudirman (70) penjahit sepuh menghabiskan sebagian besar harinya. Usianya telah menua, namun ketajaman matanya nyaris tak pernah meleset menyusup benang ke lubang jarum.
“Masukin benang itu biasanya sekali masuk. Tapi kalau mata sudah capek, kadang benangnya enggak mau,” ujarnya di kediaman sekaligus rumah menjahitnya. Selasa (13/1/25)
Puluhan tahun sudah ia melayani warga sekitar. Dari mengecilkan celana, menambal baju kerja, hingga menjahit seragam sekolah anak-anak kampung. Permintaan datang silih berganti, dan dari situlah rasa bahagia itu tumbuh, bukan karena besar kecilnya upah, melainkan karena ia merasa dibutuhkan.
Pendidikannya mungkin hanya sampai bangku SMP, namun hal itu tak pernah membuatnya berkecil hati. Ia justru bersyukur, sebab dari keterampilan sederhana yang ia miliki, banyak orang terbantu.
“Saya cuma lulusan SMP mas, tapi saya bersyukur bisa bermanfaat bagi banyak orang,” ungkap penjahit yang kerap disapa Mbah Moh itu.
Bagi Mbah Moh, kemampuan menjahit bukan sekadar mengukur kain dan merapikan jahitan, tetapi jalan untuk menolong sesama. Namun di usianya yang semakin senja, banyak hal yang mulai berubah, dari tenaga berkurang hingga gerak makin melambat. Tapi satu hal yang masih ia jaga betul: kesehatan matanya.
Bagi sebagian orang, mata sepet, perih, atau lelah mungkin hanya dianggap tanda kelelahan biasa. Bisa diabaikan, bisa nanti saja. Namun bagi Mbah Moh, tanda-tanda kecil itu justru menjadi alarm penting. Ia belajar dari pengalamannya ketika mata mulai terasa tidak nyaman, hasil jahitan ikut terpengaruh.
“Kalau mata sudah capek terus dipaksakan, jahitan bisa miring. Bisa-bisa di komplain pelanggan saya,” ujarnya nada pelan.
Pernah ia mengabaikan rasa sepet dan perih yang muncul setelah bekerja seharian. Sesekali di kucek dengan tangan, tapi makin dibiarkan mata kadang jadi bengkak dan berair. Awalnya, ia menganggap rasa sepet dan perih sebagai bagian dari usia. “Namanya juga sudah tua,” pikirnya kala itu. Sampai suatu hari, pandangannya mulai terasa buram. Fokus hilang hingga tak nyaman lagi untuk dipaksa menjahit.
Sejak saat itu, ia mulai peka menangkap sinyal dari tubuhnya terutama mata. Ia sadar, gejala kecil yang selama ini dianggap sepele justru bisa menjadi awal masalah yang lebih besar. Mata sepet, perih, dan lelah bukan sekadar rasa tidak nyaman, melainkan peringatan bahwa mata membutuhkan perhatian.
Apa yang dialami Mbah Moh ini ternyata sama hal dengan kondisi banyak orang di kota besar. Prevalensi mata kering di Jakarta dan Bandung tercatat mencapai sekitar 41 persen. Angka yang tinggi ini menunjukkan bahwa mata kering bukan masalah langka. Ironisnya, banyak orang yang mengalami mata kering tidak menyadari kondisi tersebut, karena gejalanya sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa.
Padahal, mata kering dapat menurunkan kualitas penglihatan, mengganggu konsentrasi, dan berdampak pada produktivitas terutama bagi mereka yang mengandalkan ketelitian visual dalam aktivitas sehari-hari. Penjahit, perajin, pekerja kantoran, hingga lansia aktif adalah kelompok yang rentan, namun sering luput dari perhatian.
Kepedulian Mbah Moh akan pentingnya merawat dan menjaga mata, tercermin dari sudut mejanya yang selalu siap sedia INSTO Dry Eyes. Di ruang kerjanya yang sederhana, selalu ada waktu jeda. Ia tahu kapan harus berhenti, kapan mata perlu setetes cairan untuk meredakan rasa kering dan perih dan kapan mata perlu istirahat.
Solusi Penjahit Sepuh Mengatasi Gejala Mata SePeLe, INSTO Dry Eyes Jadi Andalan
Dulu, ketika mata terasa perih atau sepet, Mbah Moh hanya mengandalkan cara-cara lama yaitu sekedar mengucek mata, mencuci mata dengan air atau memejamkannya sejenak yang kadang masih terasa perih di mata. Ia menyadari bahwa keluhan kecil seperti itu tidak bisa terus diabaikan, terlebih ketika aktivitas menjahit menuntut ketelitian tinggi.
Kini, saat mata mulai terasa kering atau lelah, ia tak ragu meneteskan INSTO Dry Eyes agar kelembapan mata tetap terjaga. Barulah ia bisa mengistirahatkan mata sejenak sebelum kembali berkarya. Baginya, merawat mata bukan soal menunggu hingga mata perih terasa parah, melainkan tentang kepekaan terhadap gejala SePeLe pertama kali muncul.
“Kalau dulu sebelum ada INSTO, cuma dikucek dan di basuh air aja. Sekarang sudah terbiasa pakai INSTO lebih praktis gak perlu dikucek-kucek lagi,” pungkasnya.
Kebiasaan kecil ini tentu sejalan dengan kampanye “Bebas Mata SePeLe” yang diluncurkan oleh INSTO sebagai salah satu merek tetes mata dari Combiphar. Kampanye ini, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mata SEpet, PErih, LElah (SePeLe) yang merupakan gejala mata kering, sekaligus menghadirkan solusi yang sesuai kebutuhan, agar masyarakat Indonesia dapat menjaga kesehatan mata dan tetap produktif.
Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap kondisi mata kering kerap membuat gejala yang tampak ringan justru luput dari perhatian. Mata sepet, perih, atau cepat lelah sering dianggap keluhan biasa, sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, sikap abai tersebut berpotensi membuat mata kering yang tidak tertangani berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan mengkhawatirkan.
Dalam kampanye tersebut hal serupa juga ditegaskan oleh Farah Feddia, GM Eye Care Combiphar. Ia menyebut rendahnya literasi masyarakat tentang mata kering menjadi perhatian serius. “Keseriusan INSTO dalam memahami literasi masyarakat terhadap mata kering kami wujudkan melalui berbagai riset dan survei yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dari riset tersebut, ditemukan fakta bahwa empat dari sepuluh orang mengalami mata kering, namun separuh di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut. Temuan ini, menurut Farah, menjadi pengingat bahwa gejala mata kering masih kerap dipandang remeh.
“Fakta ini menegaskan pentingnya upaya edukasi yang lebih luas. Karena itu, melalui kampanye ‘Bebas Mata SePeLe’, INSTO melalui INSTO Dry Eyes hadir untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menghadirkan solusi yang sesuai kebutuhan, agar masyarakat Indonesia dapat menjaga kesehatan mata dan tetap produktif,” tambahnya.
INSTO Dry Eyes yang merupakan solusi berbagai keluhan “Mata SePeLe”, hadir untuk mengatasi masalah mata mulai dari mata kering, sepet, perih, hingga lelah akibat aktivitas yang menuntut fokus tinggi. INSTO Dry Eyes diformulasikan khusus dengan kandungan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC), bahan aktif yang berperan menjaga kelembapan mata.
Kandungan HPMC dikenal mampu bekerja sebagai pelumas yang menyerupai air mata alami, sehingga membantu meringankan iritasi yang timbul akibat berkurangnya produksi air mata. Tak hanya itu, bahan aktif ini juga telah diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai guideline terapi dalam penanganan gejala mata kering.
Kisah penjahit sepuh bersama INSTO Dry Eyes ini mengingatkan kita bahwa masalah mata kering bukan hal sepele, terutama ketika tubuh mulai menua, atau aktivitas menuntut ketelitian tinggi. Mengenali tanda-tanda seperti mata sepet, perih, dan lelah adalah langkah awal untuk menjaga kualitas hidup dan karya.
Penutup dari wawancara, Mbah Moh menyampaikan bahwa di usia senja, ia tak mengejar kecepatan lagi. Yang ia jaga adalah keberlanjutan. Selama mata masih terawat, selama kesadaran tetap ada, karya akan terus lahir tanpa harus dikalahkan oleh gejala yang seharusnya bisa dicegah. Karena berkarya tak selalu tentang melawan usia, tetapi tentang lebih peka pada tubuh, termasuk mata. Dan untuk itu, bebas dari Mata SePeLe adalah langkah kecil dengan dampak besar. (Adhi)














