Rotasi.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno membuka Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqah Al-Hadits (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Tugu Persatuan, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Pembukaan tersebut menandai dimulainya ajang bergengsi tingkat nasional yang mengusung semangat syiar Al-Qur’an dan penguatan nilai keislaman di tengah tantangan zaman. Pratikno hadir mewakili Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pembinaan generasi Qurani Indonesia.
Kegiatan STQH Nasional 2025 dibuka secara simbolis melalui pemukulan dimba, alat musik tradisional khas Kendari, oleh Menko PMK Pratikno bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, dan Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad. Ribuan masyarakat tampak antusias memadati area Tugu Persatuan, menyaksikan pembukaan yang sarat dengan nilai budaya dan spiritualitas.
Dalam sambutannya, Pratikno menegaskan bahwa Islam pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Ia mengingatkan bahwa ilmuwan Muslim terdahulu tidak hanya ahli sains dan teknologi, tetapi juga hafiz Al-Qur’an yang mampu memadukan iman dan akal dalam membangun peradaban.
“Para ilmuwan besar bukan hanya ahli pengetahuan, tetapi juga penghafal Al-Qur’an. Ini bukti bahwa iman dan akal dapat bersinergi membangun peradaban,” ujar Pratikno dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (13/10/2025).
Pratikno mengajak generasi muda Islam Indonesia untuk terus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan spiritualitas. Menurutnya, kemajuan harus dijadikan sarana memperkuat syiar Islam di tingkat global.
“Kemajuan tanpa akhlak ibarat pedang tajam di tangan orang yang matanya tertutup. Di sinilah Al-Qur’an dan Hadis berperan sebagai kompas moral abadi,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Islam tidak menolak kemajuan, melainkan mendorong umatnya menjadi pelopor inovasi yang berlandaskan akhlakul karimah.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa STQH Nasional bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wasilah spiritual untuk menumbuhkan generasi Qurani yang unggul, tangguh, dan cinta lingkungan.
Tema besar tahun ini, “Syiar Al-Qur’an dan Hadis: Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan,” menurutnya, menjadi jawaban atas tantangan zaman seperti meningkatnya konflik sosial dan krisis ekologis.
“Al-Qur’an dan Hadis hadir sebagai suara kenabian yang menyeru pada kasih sayang dan harmoni,” ujar Nasaruddin.
Ia menambahkan, merawat lingkungan merupakan bagian dari zikir sosial, sebab dalam setiap ayat tentang alam terkandung pesan keseimbangan dan keadilan ekologis.
“Mencintai Al-Qur’an berarti mencintai bumi dan sesama,” tambahnya.
STQH Nasional XXVIII 2025 di Kendari berlangsung pada 9–19 Oktober 2025 dengan diikuti lebih dari seribu peserta dari 35 provinsi di Indonesia. Total partisipan, termasuk dewan hakim, pelatih, pendamping, dan pejabat daerah maupun pusat, mencapai sekitar empat ribu orang.
Selain menjadi ajang tilawah dan musabaqah hadis, STQH juga berfungsi sebagai wadah pemberdayaan umat dan penggerak ekonomi lokal melalui expo UMKM, bazar, dan pasar rakyat berbasis kearifan lokal.
Kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan generasi Qurani berakhlakul karimah, memperkuat kerukunan umat, serta menanamkan kesadaran ekoteologi bahwa mencintai Al-Qur’an juga berarti menjaga bumi sebagai amanah Allah SWT. (*)














