Rotasi.co.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan ketidakmerataan distribusi dana hibah untuk lembaga pendidikan keagamaan di provinsinya.
Ia menyoroti adanya ketimpangan alokasi, di mana beberapa daerah menerima dana hibah dalam jumlah besar karena memiliki akses politik, sementara daerah lain, seperti Yayasan Bahtra Pendidikan Islam Nurul Iman di Bekasi, tidak mendapatkan bantuan yang memadai.
“Ini upaya kita dalam membenahi manajemen tata kelola hibah, agar hibah ini tidak jatuh pada pondok pesantren yang itu-itu saja,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari Antara, Kamis (24/4/2025).
Yayasan Bahtra Pendidikan Islam Nurul Iman, yang telah berdiri sejak 35 tahun lalu di kawasan Perum Taman Narogong Indah, Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi, mengalami kerusakan parah pada bangunannya.
Akibatnya, Rumah Tahfidz Quran di bawah naungan yayasan tersebut telah vakum selama dua tahun sejak 2023.
Pendiri yayasan, Darmi Syarif, menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah atau provinsi dapat memberikan bantuan untuk memperbaiki bangunan tersebut.
“Sudah dua tahun kami tidak bisa beroperasi, akibat kerusakan parah pada langit-langit dan berbagai fasilitas pendukung yang sudah tidak layak,” ujar Darmi Syarif saat ditemui di lokasi, pada Kamis (8/5/2025).
Berdasarkan pengamatan di lapangan, bangunan sekolah tersebut memang tampak tidak terawat. Beberapa bagian plafon terlihat runtuh, dinding mengelupas, dan beberapa ruangan tidak bisa digunakan karena kondisinya yang membahayakan.
Darmi menjelaskan bahwa sebelum vakum, rumah Tahfidz Quran ini memiliki puluhan santri yang belajar menghafal Al-Quran.
“Dengan adanya kerusakan bangunan, para santri terpaksa pindah ke tempat lain untuk melanjutkan pendidikan mereka,” ungkapnya.
Pihak yayasan mengaku telah berupaya mencari bantuan dari berbagai pihak terkait, namun belum mendapatkan respons positif. Kini, harapan mereka tertuju pada pemerintah kota, khususnya Wali Kota Bekasi.
“Kami sudah menyusun proposal lengkap beserta rincian kebutuhan renovasi. Semoga dengan bantuan pemerintah kota, rumah Tahfidz Quran ini bisa kembali beroperasi dan melayani masyarakat seperti dulu,” pungkas Darmi.
Keberadaan rumah Tahfidz Quran menjadi penting di tengah kebutuhan masyarakat Bekasi akan pendidikan karakter berbasis agama. Dengan dukungan pemerintah kota, harapan untuk menghidupkan kembali lembaga pendidikan yang telah mengabdi selama 35 tahun ini bisa terwujud. (*)














