Rotasi.co.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Kondisi tersebut mengganggu kegiatan belajar mengajar dan membuat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan skema pembelajaran darurat bagi peserta didik terdampak.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan dampak gempa tercatat pada 1.378 satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik dan tenaga kependidikan yang terdampak mencapai ratusan ribu orang.
“Gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di tujuh kabupaten dengan jumlah peserta didik mencapai 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” ujar Atip dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Kamis (20/8/2026).
Kerusakan akibat gempa juga terjadi pada sejumlah fasilitas pendidikan. Dari 8.664 ruang kelas yang telah terdata, sebanyak 5.521 ruang atau sekitar 63,7 persen dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk 2.229 ruang yang masuk kategori rusak berat atau total.
“Kerusakan juga menimpa laboratorium, perpustakaan, sanitasi, dan hunian dinas guru,” kata Atip.
Kondisi kerusakan bangunan sekolah tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan pembelajaran. Kemendikdasmen mencatat sebanyak 1.116.324 murid mengalami gangguan kegiatan belajar karena sekolah harus menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi darurat dan risiko gempa susulan.
“Pembelajaran dilakukan dari rumah dan di tempat pengungsian untuk menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai anak-anak karena gempa susulan yang masih terus berlangsung,” jelas Atip.
Kemendikdasmen mencatat 923 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dari rumah, 171 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran secara daring, 35 sekolah menggunakan ruang kelas darurat, dan 30 sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka.
“Dilaporkan sebanyak 923 satuan pendidikan melaporkan menerapkan belajar dari rumah, 171 pembelajaran daring, 35 sekolah belajar di kelas darurat, dan 30 sekolah masih tatap muka,” jelasnya.
Untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung, Kemendikdasmen mulai menyiapkan ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Penyediaan fasilitas tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah terdampak.
“Saat ini kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan untuk belajar anak,” tutur Atip.
Selain menyediakan fasilitas pembelajaran sementara, Kemendikdasmen terus melakukan pendataan kondisi satuan pendidikan dan kebutuhan pendidikan di wilayah terdampak. Pendataan dilakukan secara real-time melalui dashboard yang tersedia di situs resmi Kemendikdasmen agar penanganan dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi lapangan.
“Pendataan dampak dan kebutuhan pendidikan terus kami lakukan secara real-time melalui dashboard di situs resmi Kemendikdasmen,” kata Atip.
Kemendikdasmen juga menerbitkan panduan pembelajaran dalam kondisi darurat untuk membantu sekolah menjaga keberlanjutan pendidikan tanpa mengabaikan aspek keselamatan peserta didik. Panduan tersebut memberikan fleksibilitas terhadap moda dan materi pembelajaran dengan menekankan materi esensial, khususnya literasi dan numerasi dasar.
“Kami memberikan fleksibilitas terhadap moda dan materi pembelajaran, dengan penekanan pada materi esensial literasi dan numerasi dasar serta dukungan psikososial bagi peserta didik,” tutur Atip.
Dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam penanganan pendidikan pascabencana karena peserta didik tidak hanya menghadapi gangguan pembelajaran, tetapi juga dampak psikologis akibat gempa dan situasi pengungsian. Karena itu, penanganan pendidikan diarahkan agar keselamatan, keberlanjutan belajar, dan pemulihan kondisi peserta didik dapat berjalan secara bersamaan.
Dengan berbagai langkah tersebut, Kemendikdasmen berupaya memastikan hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat gempa NTT. Pemerintah juga terus menyesuaikan strategi pembelajaran berdasarkan perkembangan kondisi sekolah, kebutuhan peserta didik, serta tingkat keamanan bangunan di masing-masing wilayah terdampak. (*)














