Rotasi.co.id – Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan (AMPP) Bantargebang kembali menyuarakan harapan lama-nya untuk menghadirkan sebuah institusi pendidikan unggulan yakni Bantargebang International School.
Usulan ini bukan hal baru, namun semangat untuk mewujudkannya kembali menguat setelah melihat kepemimpinan inspiratif dari tokoh nasional sekaligus Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.
Melalui pernyataan terbuka, AMPP menilai bahwa Kang Dedi sapaan akrabn Gubernur Jabar itu, memiliki karakter kepemimpinan yang jarang dimiliki oleh pejabat public, mendengar keluhan masyarakat secara langsung dan tanpa batas.
“Kami menyaksikan sendiri bagaimana beliau berani membuka telinga lebar-lebar hanya untuk mendengar keluh kesah rakyat. Ini bukan hal biasa. Banyak pejabat lebih suka didengar, bukan mendengarkan,” ujar perwakilan AMPP, Agus Hadi Prasetyo dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (30/5/2025).
Setelah puluhan tahun wilayah Bantargebang menjadi tempat pembuangan sampah dari berbagai daerah, Agus menilai bahwa saat ini diperlukan langkah strategis dan berkelanjutan untuk mengembalikan martabat daerah tersebut, salah satunya melalui sektor pendidikan.
“Setelah sekian lama kampung kami menjadi tempat dilemparinya sampah, dan setelah nilai-nilai moral serta budaya mulai bergeser, kami percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan masa depan adalah melalui pendidikan. Dan kami ingin Kang Dedi ikut serta dalam perjuangan ini,” tegasnya.
Ia pun secara terbuka meminta dukungan dan keterlibatan Kang Dedi Mulyadi untuk menjadikan Bantargebang International School sebagai simbol perubahan dan kebangkitan generasi muda di kawasan tersebut.
“Kami titipkan harapan ini di pundak Kang Dedi Mulyadi. Kami percaya, melalui pengaruh, gagasan, dan kepedulian beliau terhadap masyarakat kecil, Bantargebang International School bisa benar-benar terwujud,” ungkapnya.
Agus Hadi Prasetyo melalui AMPP menegaskan bahwa perjuangan ini bukan semata tentang infrastruktur sekolah, melainkan soal masa depan anak-anak Bantargebang, hak mereka untuk bermimpi, dan peluang untuk bangkit dari stigma yang telah lama melekat. (*)














