Rotasi.co.id — Aktris dan aktivis sosial Zaskia Adya Mecca angkat suara mengenai insiden tertahannya dirinya bersama sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Mesir saat mengikuti aksi solidaritas internasional Global March to Gaza, yang bertujuan mendesak dibukanya akses kemanusiaan ke wilayah Gaza, Palestina.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu (15/6/2025), Zaskia mengungkapkan bahwa ia bersama sembilan WNI lainnya bergabung dalam aksi tersebut sebagai bagian dari kontingen Malaysia, bukan Indonesia.
“Kami mendaftar sebagai peserta resmi di bawah kontingen Malaysia karena kami terlambat mendaftar melalui jalur Indonesia. Jadi, sudah tidak bisa lagi menambah perwakilan atas nama Indonesia,” ungkap Zaskia.
Setelah proses administrasi dan pengarahan dari panitia aksi rampung, rombongan mulai bergabung dalam kegiatan long march tersebut.
Zaskia menegaskan bahwa seluruh peserta asal Indonesia menyadari risiko tinggi yang mungkin mereka hadapi selama mengikuti aksi di wilayah yang dikawal ketat oleh otoritas Mesir.
Ia menceritakan, setibanya di Kairo, situasi mulai memanas. Beberapa peserta long march dari berbagai negara dilaporkan dideportasi, dan beberapa aktivis lainnya ditangkap oleh otoritas Mesir.
Zaskia menjelaskan bahwa kondisi semakin tegang ketika tiga unit mobil polisi datang ke hotel tempat rombongannya menginap.
“Ada sekitar tiga mobil polisi yang datang. Mereka menyisir lokasi, dan empat peserta dari negara lain ditangkap,” jelas Zaskia.
Menurutnya, tekanan semakin meningkat ketika sekitar 20 personel kepolisian dan intel berjaga di sekitar hotel. Bahkan, sebuah mobil tahanan turut disiapkan di depan bus yang mereka tumpangi.
“Kami seperti terkunci dan tidak bisa bergerak. Sekitar 20 polisi, intel, mobil polisi, bahkan mobil tahanan khusus disiapkan hanya untuk kami ber-10,” tambahnya.
Meskipun demikian, Zaskia memastikan bahwa ia dan rombongan berada dalam kondisi aman dan sehat, dan berjanji akan membagikan cerita lebih lengkap setelah situasi sepenuhnya mereda.
Menanggapi peristiwa tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Roy Soemirat, menegaskan keikutsertaan WNI dalam aksi Global March to Gaza bukan merupakan bagian dari misi resmi negara, melainkan inisiatif pribadi.
“Mereka berangkat bukan sebagai bagian dari pemerintah. Itu keputusan individu. Namun kami tetap memberikan dukungan sebatas perlindungan WNI,” tegas Roy.
Meski demikian, Roy juga menegaskan KBRI di Mesir telah memberikan bantuan kepada Zaskia dan rombongan lainnya, khususnya dalam hal akomodasi dan perlindungan diplomatik sementara mereka tertahan di Mesir.
“Kami bantu agar mereka bisa tinggal sementara di hotel sembari menunggu kejelasan akses ke Gaza,” ujar Roy.
Akhirnya, para peserta termasuk Zaskia memutuskan untuk pulang ke Indonesia secara mandiri, setelah menilai kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan partisipasi dalam aksi tersebut.
“Pada akhirnya, mereka memutuskan pulang sendiri karena tidak ingin terus menunggu dibukanya blokade perbatasan,” tutup Roy. (*)














