Rotasi.co.id – Gelombang laut yang mencapai sekitar dua meter tidak menyurutkan semangat personel Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) DIY untuk mengibarkan Sang Merah Putih di tengah laut Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (17/8/2026).
Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah Operasi II Pantai Baron, Marjono, mengatakan pengibaran bendera di tengah laut menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun sejak 2013.
Kegiatan tersebut dirancang untuk memperingati kemerdekaan sekaligus menanamkan nilai nasionalisme kepada masyarakat, khususnya warga di kawasan pesisir.
“Semangat teman-teman luar biasa. Prosesi ini merefleksikan bagaimana perjuangan para pendahulu dalam mencapai kemerdekaan, walaupun apa yang kita lakukan ini belum ada apa-apanya,” kata Marjono saat ditemui di lokasi acara, Senin (17/8/2026).
Pelaksanaan upacara HUT RI ke-81 di Pantai Baron berlangsung dalam suasana berbeda karena ratusan peserta harus menyeberangi perairan untuk mencapai lokasi upacara. Sejak sekitar pukul 09.00 WIB, peserta dari berbagai instansi, sekolah, dan unsur masyarakat mulai berkumpul di dermaga kecil sebelum menggunakan kapal nelayan menuju lokasi yang berada di kawasan pantai yang dikelilingi air.
“Peserta memang harus menyeberang menggunakan kapal karena lokasi upacaranya berada di kawasan yang dikelilingi air. Kapal nelayan kami gunakan untuk membantu mengangkut peserta menuju lokasi,” ujar salah seorang petugas di lokasi.
Suasana upacara semakin khidmat ketika lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang tepat pukul 10.00 WIB. Para peserta berdiri rapi di atas pasir sambil memberikan penghormatan ketika bendera Merah Putih dikibarkan, sedangkan wisatawan, pedagang, dan pengunjung Pantai Baron turut menyaksikan prosesi dari tepian pantai.
“Ketika Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta memberikan penghormatan kepada Merah Putih. Suasana pantai dan suara ombak justru membuat prosesi peringatan kemerdekaan terasa semakin khidmat,” ungkap Marjono.
Rangkaian peringatan kemerdekaan kemudian dilanjutkan dengan aksi pengibaran Merah Putih di tengah laut oleh personel SRI DIY. Tiga personel yang ditunjuk sebagai pengibar bendera lebih dahulu menceburkan diri ke laut dan berenang menuju tiang bendera apung yang berada sekitar 150 meter dari bibir pantai.
“Tiang bendera apung yang kami pasang itu tingginya sekitar 10-15 meter. Itu cukup sulit karena petugas terombang-ambing saat memasang bendera,” tutur Marjono.
Kondisi laut yang bergelombang membuat perjalanan menuju tiang bendera tidak mudah bagi para personel. Sejumlah petugas bahkan harus menghentikan upaya berenang karena menghadapi kondisi perairan yang cukup berat, sedangkan personel lainnya tetap melanjutkan perjalanan hingga mencapai titik pengibaran.
“Tinggi ombak itu mungkin sekitar dua meter,” kata Marjono.
Pengamanan aksi tersebut dilakukan menggunakan dua unit sky boat yang bergerak mengelilingi area pengibaran. Petugas menggunakan sarana tersebut untuk memantau pergerakan para perenang sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan memperhatikan aspek keselamatan.
“Kami tetap melakukan pengawasan dari sky boat untuk memastikan personel yang berenang tetap terpantau. Keselamatan tetap menjadi perhatian utama dalam kegiatan seperti ini,” ujar Marjono.
Setelah melalui perjuangan menghadapi gelombang, sejumlah personel akhirnya mencapai tiang bendera apung dan mempersiapkan prosesi pengibaran. Setelah aba-aba diberikan, para perenang berdiri dalam posisi hormat, sementara kapal dan sky boat berada di sekitar tiang bendera ketika lagu “Indonesia Raya” kembali dinyanyikan di tengah laut Pantai Baron.
“Setelah bendera siap dikibarkan, seluruh perenang bersikap hormat dan bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya di tengah laut,” ungkap Marjono.
Marjono menjelaskan kegiatan pengibaran bendera di tengah laut tersebut telah menjadi tradisi tahunan SRI DIY sejak 2013. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan, tetapi juga menjadi media edukasi untuk memperkuat rasa nasionalisme masyarakat pesisir.
“Memberikan pemahaman kepada warga masyarakat pesisir dan juga dari rekan-rekan SRI biar rasa nasionalisme itu semakin mendalam,” ujarnya.
Aksi pengibaran Merah Putih di tengah laut juga melibatkan personel perempuan. Susmiyati (35), anggota SRI DIY, menjadi salah satu dari tiga personel perempuan yang mengikuti aksi renang dan mendapat tugas sebagai salah satu pengibar bendera bersama Surono dan Heri Wibowo.
“Kalau yang ikut terjun renang perempuannya totalnya ada tiga, tapi saya diberi tugas menjadi pengibar bendera,” kata Susmiyati.
Susmiyati mengatakan kondisi laut pada pelaksanaan tahun ini terasa lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan kedalaman perairan membuat jarak renang menjadi lebih menantang, sementara gelombang tinggi menuntut tenaga dan kemampuan berenang yang lebih besar dari setiap personel.
“Tahun kemarin itu cukup datar pasirnya, jadi berenang enggak terlalu jauh. Kalau sekarang lebih berat karena dari pasir langsung dalam,” ujarnya.
Susmiyati tercatat telah empat kali menjadi bagian dari tim perenang dalam pengibaran Merah Putih di tengah laut Pantai Baron. Meskipun kondisi gelombang dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi, persiapannya untuk kegiatan tersebut tetap dilakukan dengan memanfaatkan pengalaman berenang dan kemampuan menyelam yang dimilikinya.
“Saya memang suka renang dan ikut kelas diving juga,” kata Susmiyati.
Rangkaian upacara HUT RI ke-81 dan pengibaran Merah Putih di tengah laut Pantai Baron akhirnya berlangsung dengan lancar. Perjuangan para personel menghadapi gelombang menjadi simbol semangat untuk terus menjaga nasionalisme sekaligus mengingat kembali perjuangan para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
“Harapannya, kegiatan ini terus menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan harus dijaga. Bukan hanya saat upacara, tetapi juga melalui pengabdian dan kepedulian kepada masyarakat,” pungkas Marjono. (*)














