Rotasi.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengaktifkan sembilan Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk memperkuat koordinasi dan pemantauan situasi kesehatan pascagempa yang melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aktivasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat di daerah terdampak dapat segera ditindaklanjuti.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kemenkes memprioritaskan pemulihan fungsi fasilitas kesehatan agar rumah sakit di kabupaten/kota terdampak dapat kembali memberikan pelayanan secara optimal.
Upaya tersebut sekaligus dilakukan untuk mengantisipasi potensi peningkatan jumlah pasien dalam beberapa hari setelah bencana.
“Selain itu Kemenkes telah mengirimkan dua Tim Manajemen Krisis Kesehatan ke Kabupaten Sikka dan Ende serta dua tim EMT untuk memperkuat pelayanan medis di lokasi terdampak,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa.
Kemenkes memperkuat respons kesehatan melalui pengerahan tim manajemen krisis dan Emergency Medical Team (EMT), serta menyiapkan Rumah Sakit (RS) Lapangan dan dukungan logistik kesehatan. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan medis ketika sejumlah fasilitas kesehatan mengalami dampak akibat gempa.
Pada 16 Agustus 2026, Kemenkes mendistribusikan delapan paket obat-obatan dasar, lima paket emergency kit, 1.000 sarung tangan steril, 20.000 sarung tangan nonsteril, 20.000 masker bedah, 10 oksigen konsentrator, serta dua tenda pos kesehatan untuk mendukung kebutuhan pelayanan di wilayah terdampak.
“Selain itu sebanyak delapan tenda tambahan juga disiagakan untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan,” ujar Menkes.
Kemenkes menargetkan seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) terdampak dapat kembali menjalankan layanan dasar paling lama dalam satu minggu. Pemulihan tersebut difokuskan pada layanan esensial, terutama operasi trauma, pelayanan ibu dan anak, serta hemodialisa.
Berdasarkan laporan situasi per 15 Agustus 2026, gempa berdampak pada delapan kabupaten/kota di NTT, yakni Kabupaten Sikka, Ende, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Flores Timur. Dari pemantauan tersebut, RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng menjadi dua fasilitas yang membutuhkan perhatian lebih dalam pemulihan layanan.
Kemenkes mengerahkan RS Lapangan yang dilengkapi fasilitas operasi dan EMT ke kedua lokasi tersebut pada 16 Agustus 2026. Pengerahan tersebut bertujuan memastikan pelayanan medis tetap tersedia bagi masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas penanganan kasus kegawatdaruratan di wilayah terdampak.
Khusus RSUD Nagekeo yang mengalami kerusakan berat, Kemenkes mengirimkan satu set RS Mobil pada Senin (17/8). Fasilitas tersebut dilengkapi sarana operasi untuk menjaga pelayanan medis dasar dan penanganan kegawatdaruratan selama proses pemulihan bangunan rumah sakit.
Kemenkes juga memperkuat sistem rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. RSUD Borong dan RSUD Komodo disiapkan sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien dari Nagekeo sesuai kapasitas pelayanan masing-masing.
RSUD Borong sebelumnya menjadi bagian dari Program Quick Win dengan target waktu rujukan dua jam, sedangkan RSUD Komodo memiliki target waktu rujukan empat jam. Penyiapan kedua rumah sakit tersebut ditujukan untuk memastikan pasien dari fasilitas kesehatan terdampak tetap memperoleh akses pelayanan lanjutan.
Selain rumah sakit, Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas yang mengalami kerusakan dapat kembali beroperasi paling lama dalam dua minggu. Pemulihan puskesmas diprioritaskan untuk memastikan pelayanan dasar masyarakat tetap tersedia selama masa tanggap dan pemulihan pascabencana.
“Kemenkes terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan NTT, Dinas Kesehatan kabupaten/kota, BNPB, dan Basarnas, untuk mempercepat pemulihan layanan kesehatan, memastikan ketersediaan tenaga medis, serta memenuhi kebutuhan obat-obatan, alat kesehatan, dan sarana pendukung lainnya di wilayah terdampak,” kata Menkes.
Kemenkes memberikan perhatian khusus terhadap pelayanan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi di puskesmas terdampak. Pemenuhan layanan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan kesehatan kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan rutin dan berkelanjutan selama masa pemulihan.
Pemerintah melakukan pemulihan layanan kesehatan secara bertahap dengan tetap menjaga keberlangsungan pelayanan dasar masyarakat. Pada saat yang sama, kapasitas fasilitas kesehatan terus diperkuat untuk menghadapi potensi peningkatan kebutuhan pelayanan medis dalam beberapa hari ke depan.
Melalui aktivasi sembilan HEOC, pengerahan tim manajemen krisis dan EMT, penyediaan RS Lapangan, RS Mobil, serta distribusi obat dan alat kesehatan, Kemenkes berupaya mempercepat pemulihan layanan kesehatan pascagempa NTT. Langkah tersebut diarahkan agar masyarakat di delapan kabupaten/kota terdampak tetap memperoleh pelayanan kesehatan selama proses pemulihan berlangsung.














