Rotasi.co.id – Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, memimpin kegiatan doa bersama bagi para korban kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur guna memberikan dukungan moril serta penghormatan terakhir kepada para korban.
Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Selasa (05/05/2026) ini bertujuan sebagai momen refleksi kolektif sekaligus penegasan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memastikan pemenuhan hak-hak korban, baik berupa santunan bagi ahli waris maupun jaminan perawatan medis bagi korban luka secara maksimal.
Dalam kesempatan tersebut, Tri Adhianto menyampaikan duka cita mendalam dan memastikan bahwa seluruh keluarga korban akan mendapatkan penanganan yang layak sesuai prosedur kemanusiaan yang berlaku.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas sinergi dari jajaran pemerintah pusat, mulai dari Presiden RI hingga Gubernur Jawa Barat, yang telah memberikan dukungan solidaritas dalam penanganan pascabencana ini.
“Sebagai kepala daerah, saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Pemerintah memastikan seluruh korban mendapatkan haknya, baik santunan bagi ahli waris maupun penanganan maksimal bagi korban yang sedang dirawat,” ujar Tri Adhianto dalam keterangannya.
Sebagai langkah preventif guna menghindari terulangnya tragedi serupa, Pemerintah Kota Bekasi telah menginstruksikan Dinas Perhubungan dan Satpol PP untuk memperketat penjagaan di titik-titik krusial, seperti perlintasan Bulak Kapal dan Ampera.
Wali Kota menegaskan bahwa standarisasi keamanan ke depan wajib beralih dari sistem manual ke sistem elektrikal yang lebih presisi, dibarengi dengan peningkatan kompetensi personel penjaga pintu perlintasan.
“Penjagaan pintu kereta itu tidak bisa sembarangan, harus ada ilmunya. Kami akan mengusulkan 22 orang untuk mengikuti pelatihan, dengan kuota awal 16 orang, agar penjagaan lebih profesional dan sesuai standar keselamatan,” jelasnya.
Selain memperkuat personel, Pemkot Bekasi berkomitmen untuk segera menutup seluruh perlintasan kereta api ilegal, termasuk di wilayah Kranji. Penutupan ini dianggap krusial demi memutus rantai risiko kecelakaan yang mengancam nyawa pengguna jalan.
“Lebih baik masyarakat memutar sedikit daripada harus menghadapi risiko kecelakaan yang bisa merenggut nyawa,” tegas Tri.
Terkait solusi permanen, Tri memaparkan bahwa pembangunan flyover di kawasan Bulak Kapal kini menjadi prioritas utama yang tengah dirumuskan bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono.
“Pemerintah menargetkan pembahasan pembebasan lahan dengan estimasi nilai Rp116 miliar dapat rampung pada akhir Mei mendatang. Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem transportasi yang jauh lebih aman bagi seluruh warga Kota Bekasi,” pungkasnya. (*)












