Rotasi.co.id – Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi, menanggapi kritik yang ramai dilontarkan publik terhadap kebijakan Gubernur Jawa Barat yang mengusulkan pengiriman siswa bermasalah ke barak militer.
Menurutnya, pendidikan sejatinya adalah usaha sadar manusia yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak, terutama orang tua, sekolah, dan lingkungan.
“Pendidikan itu adalah usaha sadar manusia untuk meningkatkan kualitas hidup. Kalau mau mendidik seseorang, harus ditanyakan dulu siapa yang ingin dididik, dan apa kebutuhannya. Apakah pendidikan agama, kedisiplinan, atau akademik? Itu penting untuk dipahami,” ujar Sardi Effendi dalam keterangannya pada Senin (26/5/2025).
Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan bahwa pendidikan anak tidak dapat disederhanakan hanya dengan pendekatan satu arah, apalagi pendekatan yang bersifat koersif.
Ia juga menegaskan tanggung jawab pendidikan anak harus dilihat sebagai segitiga kewajiban yang melibatkan tiga unsur utama: orang tua, sekolah, dan lingkungan sosial.
“Saya melihat bahwa jika orang tua dan sekolah masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik, maka tidak perlu ada intervensi seperti pengiriman ke barak militer. Pendidikan anak itu kompleks dan harus didukung oleh kerja sama tiga unsur tersebut,” jelasnya.
Sardi juga menyebut hingga saat ini, DPRD Kota Bekasi belum menerima laporan resmi dari Komisi IV atau Dinas Pendidikan Kota Bekasi terkait adanya siswa yang akan dikirim ke barak militer, sebagaimana yang diwacanakan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, atau yang akrab disapa KDM.
“Sampai hari ini belum ada laporan apakah Kota Bekasi akan ikut serta dalam program tersebut. Tapi bagi saya, jika lingkungan anak – termasuk orang tua dan tokoh masyarakat – masih bisa membimbing, maka solusi seperti barak militer belum tentu menjadi pilihan tepat,” tegas Sardi.
Menurutnya, solusi terbaik dalam mendidik anak-anak yang mengalami tantangan perilaku adalah dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan edukatif. Ia menekankan pentingnya memahami latar belakang anak dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan mereka.
“Jika memang orang tua sudah tidak sanggup, barulah kita pikirkan alternatif pendidikan yang tepat. Tapi tentu bukan berarti harus selalu pola militer. Pendidikan moral dan agama bisa menjadi pendekatan yang lebih efektif,” pungkasnya. (*)














