Rotasi.co.id – Job Fair yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) pada Selasa (27/5/2025) di President University Convention Centre, Jababeka, Cikarang Utara, diwarnai insiden kericuhan. Puluhan ribu pencari kerja (pencaker) memadati lokasi hingga menyebabkan antrean tidak terkendali dan bentrokan fisik di beberapa titik.
Kegiatan yang mengusung program “Bekasi Pasti Kerja” itu menyediakan 2.517 lowongan dari 64 perusahaan. Namun, antusiasme masyarakat jauh melebihi ekspektasi. Berdasarkan data Pemkab, total pencaker yang hadir mencapai sekitar 25 ribu orang.
Sejak pagi, ribuan pencaker sudah memadati area luar gedung. Mayoritas dari mereka mengenakan pakaian formal, seperti kemeja putih dan celana hitam. Namun, alur antrean yang semrawut menyebabkan ketegangan antar pencaker, terutama di pintu masuk yang dibagi berdasarkan jenis kelamin.
Di luar gedung, sempat terjadi adu jotos antar pencaker akibat saling dorong. Kericuhan juga melibatkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang mencoba menahan antrean karena kapasitas ruangan yang sudah penuh. Akibatnya, beberapa orang mengalami sesak napas dan harus mendapatkan penanganan medis.
Kemala Putri (22), salah satu pencaker asal Cibarusah, mengungkapkan rasa kecewanya karena sulitnya mengakses stan perusahaan. “Saya sudah datang dari jam 7 pagi. Tapi antreannya kacau. Saya dorong-dorongan selama lebih dari satu jam,” ujarnya. Kemala, lulusan SMA tahun 2024, hanya sempat memindai lima barcode perusahaan karena situasi yang sangat padat.
Hal serupa dirasakan oleh Galih Setiamana (19), pencaker dari Cikarang Selatan. Ia berharap berkas lamarannya diterima dan bisa segera bekerja. “Tadi saya coba lamar ke YKK, Epson, dan beberapa perusahaan lainnya. Ini baru kedua kalinya saya melamar kerja,” katanya.
Setiap stan perusahaan menyediakan barcode yang harus dipindai pelamar untuk mengakses formulir digital dan mengunggah dokumen lamaran.
Menanggapi kondisi ini, Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, menyampaikan permohonan maaf dan mengaku tidak menduga antusiasme pencaker akan sebesar itu. “Jumlah lowongan yang kami sediakan hanya 2.517, tapi yang datang 25 ribu. Ini beban moral bagi kami, dan tentu harus menjadi bahan evaluasi,” ucapnya.
Ade menegaskan bahwa Pemkab Bekasi akan mengevaluasi sistem pelaksanaan job fair ke depan, termasuk kemungkinan pembatasan jumlah pengunjung dan pembagian waktu kunjungan. Ia juga menyebut akan menjalin komunikasi dengan pihak kawasan industri dan perusahaan untuk meningkatkan kuota lowongan kerja.
“Nanti kami akan panggil para pimpinan kawasan industri untuk menambah kuota atau membagi jadwal kedatangan pencaker. Ini agar situasi tidak semrawut seperti hari ini,” tegasnya.
Menurut Ade, program Bekasi Pasti Kerja merupakan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran. Dari total 7.000 perusahaan yang tersebar di berbagai kawasan industri, ia berharap ada kontribusi nyata dalam menyerap tenaga kerja lokal.
“Kami mendorong agar perusahaan-perusahaan di Bekasi lebih aktif melibatkan warga ber-KTP Kabupaten Bekasi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 3,2 juta jiwa, kontribusi sektor industri sangat penting,” tandasnya. (*)













