Rotasi.co.id – Presiden terpilih Prabowo Subianto secara tegas menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang selama ini tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat.
Pernyataan ini ia sampaikan saat menutup Konferensi Internasional Infrastruktur Tahun 2025, yang berlangsung di Jakarta Pusat.
“Terlalu banyak kekayaan Indonesia tidak sampai ke rakyat Indonesia,” ujar Prabowo dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu (14/6/2025).
Dalam pidato kenegaraannya tersebut, Presiden Prabowo menyoroti bahwa Indonesia kerap kehilangan kendali atas kekayaan alamnya, karena kurangnya ketegasan, keberanian, serta disiplin dalam mengelola dan menjaga sumber daya strategis bangsa.
“Saya tidak malu-malu, kita harus berani mengatakan apa adanya. Kekurangan Indonesia adalah kita kurang tegas, kurang berani, kurang disiplin, dan kurang keras menjaga kekayaan kita,” lanjutnya.
Prabowo juga menyatakan salah satu fokus utama pemerintahannya ke depan adalah memastikan kekayaan alam Indonesia baik tambang, hutan, energi, hingga kekayaan maritim dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Ia menekankan bahwa hal tersebut hanya bisa terwujud melalui kepemimpinan yang berani mengambil keputusan sulit, serta keberpihakan pada efisiensi dan keadilan sosial.
“Dengan demikian, saya harus memimpin satu pemerintahan yang berani menegakkan efisiensi dan penghematan,” ungkap Prabowo.
Presiden juga menyinggung pentingnya alokasi anggaran negara yang tepat sasaran.
Menurutnya, dengan melakukan penghematan dan efisiensi, anggaran negara dapat dialihkan untuk investasi pada sektor-sektor penting, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, serta ketahanan pangan dan energi.
“Dengan efisiensi penghematan, kita bisa investasi di hal-hal yang sangat penting,” tegas Prabowo.
Pidato tersebut mendapat sorotan dari berbagai kalangan karena dinilai mencerminkan komitmen kuat pemerintah baru terhadap pemerataan ekonomi dan kedaulatan sumber daya alam nasional.
Presiden Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia tidak boleh lagi menjadi penonton di negeri sendiri, terutama dalam sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah tinggi.
Dalam konteks konferensi infrastruktur, Prabowo mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur ke depan harus mendukung distribusi kekayaan secara lebih merata dan inklusif.
Ia menekankan bahwa infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, namun harus menjadi alat strategis untuk pemerataan kesejahteraan nasional.
Sebagai presiden terpilih yang akan segera menjabat secara resmi, Prabowo menunjukkan sinyal pemerintahannya akan fokus pada pembenahan manajemen keuangan negara, serta perbaikan tata kelola sumber daya alam yang berbasis keberlanjutan dan keadilan sosial.
Pernyataan ini sekaligus menjadi refleksi terhadap tantangan masa lalu, di mana sebagian besar keuntungan ekonomi dari hasil tambang, perkebunan, dan energi tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas. Dengan pendekatan yang lebih tegas, disiplin, dan berani, Prabowo berharap Indonesia mampu melangkah ke arah pembangunan ekonomi yang berdaulat, efisien, dan pro-rakyat. (*)













