Rotasi.co.id – Pakar Komunikasi dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, memberikan pandangan kritis terkait fenomena viralnya penggunaan bendera anime One Piece dalam ranah publik dan media sosial.
Fajar, yang juga dikenal luas dengan sapaan Fajarjun, menilai bahwa One Piece bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan sarat akan elemen semiotika, nilai budaya, hingga simbol-simbol ideologis yang kaya makna.
“One Piece merupakan manga bergenre shōnen, yakni cerita yang ditujukan untuk remaja laki-laki, yang telah lama beredar dan berkembang menjadi bagian dari budaya populer global. Dalam perspektif semiotika, nilai-nilai seperti kerja keras, persahabatan, dan kemenangan menjadi tema utama yang direpresentasikan dalam cerita,” jelas Fajar dikutip pada Selasa (5/8/2025).
Pertarungan Ideologis dan Simbol Visual dalam One Piece
Fajar menegaskan bahwa karakter dalam One Piece merepresentasikan nilai-nilai moral yang positif, sedangkan para musuhnya menggambarkan oposisi biner terhadap prinsip-prinsip tersebut.
Hal ini, menurutnya, menjadikan pertarungan dalam cerita sebagai bentuk pertarungan ideologis, bukan sekadar aksi hiburan.
“Elemen visual seperti desain karakter, kostum, hingga properti dalam One Piece bukan hanya estetika, tetapi juga membawa makna budaya dan memperkuat pesan naratif,” paparnya.
Ia juga menyoroti bagaimana anime ini digunakan sebagai sarana representasi politik, di mana nilai dan karakter didesain secara semiotik untuk menyuarakan konflik sosial dan politik yang lebih luas.
Referensi Akademik dan Aktivisme Simbolik
Fajar merujuk pada studi Thomas Zoth (2011) berjudul The Politics of One Piece: Political Critique in Oda’s Water Seven, yang menyoroti narasi politik dalam arc Water Seven.
Penelitian itu menilai bahwa alur tersebut menggambarkan ketegangan antara hak individu dan keamanan negara—tema yang relevan dalam konteks politik modern.
“Narasi ini menyampaikan bahwa pengorbanan hak individu atas nama keamanan nasional tidak dapat diterima begitu saja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fajar menilai penggunaan bendera One Piece oleh warganet sebagai bentuk aktivisme digital dan simbol resistensi sosial.
Mengacu pada teori sosiolog Alberto Melucci, ia menjelaskan bahwa setiap gerakan sosial memerlukan simbol yang mempersatukan identitas kolektif.
“Bendera menjadi simbol identitas kelompok. Ketika digunakan di media sosial—baik sebagai foto profil, status, atau unggahan—bendera itu mengandung makna bahwa publik sedang melakukan aksi kolektif dalam bentuk resistensi,” imbuhnya.
Fajar menambahkan bahwa respons pemerintah terhadap fenomena ini justru kerap kontraproduktif akibat kurangnya pemahaman terhadap makna simbolik dan dinamika komunikasi digital.
“Alih-alih merespons secara proporsional, komentar beberapa pejabat justru memperkeruh suasana karena tidak memahami konteks budaya populer,” tutupnya. (*)













