Rotasi.co.id – Inisiator Indonesia Peace Convoy (IPC), Bachtiar Nasir, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas penahanan sejumlah publik figur Indonesia yang tergabung dalam aksi Global March to Gaza.
Gerakan internasional ini merupakan bentuk solidaritas damai yang mendesak dibukanya akses kemanusiaan ke Gaza, Palestina, pascaserangan brutal pada 7 Oktober 2024.
Dalam pernyataannya, Sabtu (14/6/2025), Bachtiar menegaskan bahwa aksi tersebut adalah murni bentuk gerakan kemanusiaan global, yang telah dirancang sejak Desember 2024 oleh berbagai elemen masyarakat internasional.
“Global March ini bukan gerakan politik. Ini adalah aksi kemanusiaan. Kami bergerak dari berbagai negara seperti Indonesia, Pakistan, Malaysia, dan Turki. Namun, yang paling cepat bergerak justru saudara-saudara kita dari Tunisia, Aljazair, Maroko, dan Libya yang langsung melintasi daratan Afrika Utara menuju Gaza,” jelas Ustaz BN sapaan akrabnya.
Dukungan Internasional dan Tantangan Logistik
Ustaz BN juga mengungkapkan bahwa partisipasi dari Indonesia memiliki tantangan logistik tersendiri, seperti kebutuhan transportasi laut dan dukungan dari negara. Ia menyebut bahwa para ulama Indonesia telah melakukan koordinasi intensif, namun masih menantikan sikap aktif dari pemerintah.
“Kami berharap negara hadir. Setidaknya, fasilitasi kapal resmi, baik dari TNI AL maupun pihak swasta, untuk mendukung misi kemanusiaan ini. Dunia tidak boleh diam. Genosida harus dihentikan. Zionis harus dihukum. Netanyahu harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza,” tegasnya dengan suara lantang.
Publik Figur Indonesia Ikut Aksi Damai di Gaza
Beberapa tokoh publik Indonesia seperti Zaskia Adya Mecca, Indadari, Wanda Hamidah, dan Ratna Galih, bersama enam Warga Negara Indonesia lainnya, telah tiba di Kairo, Mesir. Mereka bergabung dalam Global March to Gaza, yang menempuh perjalanan darat sejauh 50 kilometer menuju Gerbang Rafah, pintu perbatasan menuju Gaza.
Aksi ini diikuti ribuan peserta dari lebih dari 50 negara, dan akan mencapai puncaknya pada 15 Juni 2025, sebagai simbol seruan global untuk membuka akses kemanusiaan ke wilayah Gaza yang terblokade.
Penahanan Peserta Aksi Damai Tuai Kecaman
Penahanan terhadap sebagian peserta aksi di tengah gerakan damai tersebut mengundang kecaman internasional. Bachtiar Nasir menegaskan bahwa penindakan represif terhadap aksi bermisi kemanusiaan tidak dapat dibenarkan.
“Jika Indonesia lamban bertindak, sejarah akan mencatat kita sebagai bangsa yang memilih diam saat keadilan dipertaruhkan,” ujar Bachtiar tegas.
Suara Peserta dari Lokasi Aksi: “Kami Tidak Bawa Senjata, Kami Bawa Kemanusiaan”
Melalui media sosial pribadinya, Zaskia Adya Mecca membagikan kondisi terkini mereka:
“Alhamdulillah, situasi kami aman, tapi sangat jauh dari yang kami harapkan. Terima kasih atas semua dukungan dan doa! Energinya sangat terasa di sini dan membuat kami tetap semangat,” tulis Zaskia dalam unggahan Instagram Stories-nya.
Wanda Hamidah, dalam video unggahannya, mengungkap alasan emosional di balik keputusannya:
“Hari ini aku meninggalkan anak-anak, meninggalkan rumah, karena rakyat Gaza butuh keadilan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ratna Galih menegaskan bahwa keikutsertaannya adalah hasil pertimbangan matang dengan suaminya. Meski sebagai seorang perempuan, ibu, dan istri, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan kebenaran.
“Ini benar-benar aksi damai. Kami tidak membawa senjata. Kami membawa suara kemanusiaan,” ujarnya mantap.
Ratna juga menambahkan bahwa kondisi di lapangan sangat dinamis dan sulit diprediksi. Ia memohon agar seluruh masyarakat Indonesia terus memberikan dukungan moril dan doa.
“Kami akan mengambil langkah dengan hati-hati, tapi tetap teguh demi semangat dan tujuan kami ke sini,” pungkasnya. (*)














