Rotasi.co.id – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa pembebasan tarif nol persen bagi kelompok komoditas pertanian Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS) menjadi peluang emas untuk meningkatkan nilai ekspor nasional secara signifikan.
Melalui skema kesepakatan dagang resiprokal (Agreements on Reciprocal Trade/ART), sebanyak 53 kelompok komoditas unggulan kini memiliki akses pasar yang lebih terbuka guna memperkuat daya saing produk lokal di kancah internasional.
Kebijakan strategis ini merupakan hasil konkret diplomasi ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang mencakup pembebasan bea masuk pada 173 pos tarif (HS Code) sektor pertanian.
Komoditas utama seperti minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), kakao, karet, kopi, hingga aneka rempah dan buah tropis dipastikan akan menikmati fasilitas tarif nol persen tersebut.
“Ini adalah peluang besar. Kakao, CPO, dan karet kita insyaallah nol tarifnya. Khusus CPO, kita memasok sekitar 1,7 juta ton ke Amerika Serikat, sehingga kebijakan ini menjadi kesempatan emas untuk mendorong komoditas lainnya seperti kopi dan kakao menembus pasar yang sangat besar,” ujar Mentan Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Selasa (03/03/2026).
Mentan menegaskan bahwa jalur perdagangan ini berada dalam kondisi aman dan minim hambatan meski dinamika perdagangan global terus berfluktuasi. Selain produk mentah, pemerintah juga akan mendorong ekspor produk olahan pertanian untuk memaksimalkan nilai tambah di pasar Amerika.
“Dukungan ini diperkuat dengan penandatanganan sejumlah Nota Kesepahaman (MoU) di US Chamber of Commerce, Washington DC, beberapa waktu lalu,” paparnya.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memerinci bahwa dalam perjanjian bertajuk Toward a New Golden Age for the US–Indonesia Alliance, total terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia yang dibebaskan dari bea masuk.
“Fasilitas ini mencakup komoditas strategis mulai dari lada, pala, cengkeh, hingga produk hilirisasi seperti tepung singkong, sagu, dan pupuk mineral berbasis kalium,” ujarnya.
Melalui sinergi ini, pemerintah optimis daya saing harga produk Indonesia akan meningkat tajam dan mampu mendominasi pasar Amerika Serikat dalam jangka panjang. (*)













