Rotasi.co.id – Ratusan siswa Unit Sekolah Baru (USB) SMP Negeri 62 Kota Bekasi terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di gedung nyaris roboh yang sebelumnya merupakan bekas Kantor Kelurahan Medan Satria.
Kegiatan belajar tetap berjalan meski bangunan tampak tidak layak digunakan, dengan atap bolong, tembok retak, serta lantai becek akibat rembesan air dari kamar mandi.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pihak sekolah, yang berharap adanya pembangunan gedung baru dari Pemerintah Kota Bekasi.
Pelaksana Harian (Plh) Wakil Kepala Sekolah SMP 62 Bekasi, Deni Permadi, mengatakan sekolah tersebut masih berstatus Unit Sekolah Baru (USB) dan berada di bawah naungan SMP Negeri 19 Kota Bekasi.
“Awalnya, gedung ini merupakan bekas kantor kelurahan. Karena wilayah Medan Satria belum memiliki SMP negeri, maka atas usulan warga dan Forum Komunikasi Rukun Warga (FKRW), tempat ini dijadikan sekolah sementara. Kami sudah berjalan hampir tiga tahun,” kata Deni kepada wartawan, Rabu (8/10/2025).
Menurutnya, kerusakan fisik bangunan sudah sering terjadi, bahkan tiga kali atap ruang kelas dan ruang guru ambruk, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
“Syukurlah tidak sampai menimpa siswa karena kejadiannya saat malam hari atau hari libur,” jelasnya.
Keterbatasan ruang kelas juga memaksa pihak sekolah menerapkan sistem belajar dua shift. Dari total sekitar 320 siswa, hanya tersedia empat ruang kelas aktif untuk kegiatan belajar siswa kelas 7, 8, dan 9.
“Kami bagi waktu belajar menjadi dua sesi, pagi untuk kelas 8 dan 9, siang untuk kelas 7. Saat ujian semester, kami biasanya menumpang di SMP 19,” ungkapnya.
Kondisi gedung yang tak lagi layak pakai membuat para guru dan siswa tetap berjuang agar kegiatan belajar tidak terhenti.
Mereka berharap Pemkot Bekasi segera merealisasikan pembangunan gedung baru yang telah diusulkan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tahun 2026.
“Kami sangat berharap pemerintah segera membangun sekolah baru agar siswa bisa belajar dengan aman dan nyaman. Kalau bisa, pembangunannya dipercepat karena kondisinya sudah memprihatinkan,” tegas Dedi.
Hingga kini, para siswa SMP Negeri 62 Bekasi masih menjalani proses belajar di gedung sementara yang rapuh sambil menunggu perhatian dan langkah nyata dari pemerintah.
Kondisi ini menjadi pengingat penting bahwa akses terhadap pendidikan yang layak dan aman merupakan hak dasar setiap anak, terlebih di tengah pesatnya pembangunan Kota Bekasi sebagai kota metropolitan.
Sementara itu, salah satu siswi kelas 8, Nadila Aida, mengaku kesulitan belajar karena kondisi ruang kelas yang lembap dan bersebelahan dengan toilet.
“Air sering merembes dari kamar mandi, jadi lantai becek. Kami juga sering belajar tanpa meja dan kursi, apalagi saat ujian, capek banget,” pungkasnya. (*)














