Rotasi.co.id – Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi mengonfirmasi bahwa deflasi yang terjadi di wilayahnya bukan disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat, melainkan karena melimpahnya stok komoditas pertanian pasca panen raya.
“Deflasi terjadi karena pasokan hasil pertanian, terutama cabai dan bawang, meningkat tajam akibat panen raya serentak di beberapa daerah. Ketersediaan barang yang melimpah menyebabkan harga di pasar turun signifikan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Gatot Purnomo, Rabu (11/6).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2025, Kabupaten Bekasi mengalami deflasi sebesar -4,8 persen, sejalan dengan tren nasional. Sebagai perbandingan, deflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Lombok Tengah sebesar -10,45 persen.
Tim pemantauan harga Dinas Perdagangan mencatat bahwa pasokan cabai dan bawang di Pasar Induk Cibitung meningkat lebih dari 35 persen dibandingkan kondisi normal. Volume harian yang sebelumnya sekitar 60 ton, kini melonjak drastis, sementara permintaan tetap.
“Dengan kondisi tersebut, deflasi yang terjadi masih dalam kategori wajar dan belum mengkhawatirkan,” tambah Gatot.
Meski daya beli masyarakat relatif stabil, Gatot mengakui bahwa sejumlah faktor turut memberikan tekanan, seperti tingkat pengangguran, pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri, dan inflasi sebelumnya.
“Memang ada tekanan ekonomi rumah tangga akibat PHK di sektor industri, namun secara umum daya beli masih dapat dipertahankan,” jelasnya.
Menariknya, meskipun harga komoditas pertanian mengalami penurunan, konsumsi masyarakat terhadap produk hasil industri seperti minyak goreng, tepung terigu, dan gula pasir justru menunjukkan peningkatan.
Sebagai langkah antisipatif, Pemerintah Kabupaten Bekasi menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat untuk menyelenggarakan Operasi Pasar Murah Bersubsidi (OPADI). Program ini difokuskan pada komoditas industri dan beras guna menjaga stabilitas harga serta daya beli, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kami pastikan masyarakat tetap mendapatkan akses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau,” ujar Gatot.
Dinas Perdagangan juga terus menjalin kerja sama dengan Perum Bulog guna memastikan kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan bahan pokok di pasar.
Sementara itu, Junaedi (50), seorang pedagang sembako di Pasar Cikarang, mengeluhkan penurunan omzet akibat sepinya pembeli.
“Rak-rak toko tetap penuh, tapi pembeli makin sedikit. Biasanya bulan-bulan ini ramai, tapi sekarang malah sebaliknya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Rina Marlina (37), warga Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara. Ia mengaku terpaksa membatasi belanja bulanan akibat pengurangan penghasilan keluarga.
“Harga memang turun, tapi penghasilan suami juga turun karena jam kerja dikurangi di pabrik. Jadi kami hanya belanja yang penting-penting saja,” tuturnya. (*)













