ROTASI.CO.ID – Pandemi yang terjadi saat ini telah menuntut kita untuk melakukan banyak penyesuaian dalam berbagai aspek kehidupan. Setelah beberapa bulan menjalani perkuliahan dengan mekanisme baru, yaitu dengan sistem online, sebagian besar mahasiswa dari berbagai kampus, salah satunya Universitas Diponegoro (Undip) saat ini juga sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan mekanisme yang baru pula.
Kegiatan yang melibatkan hampir 4.000 mahasiswa Undip ini, dilepas secara langsung oleh Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum. melalui upacara virtual pada (16/7/2020) kemarin. Dalam sambutannya, Prof. Yos berpesan kepada para peserta KKN untuk tetap menjaga nama baik almamater di daerahnya masing-masing, dan juga melaksanakan KKN ini dengan penuh kegembiraan serta berorientasi pada outcome, yaitu kebermanfaatan bagi masyarakat.
Mengangkat tema “Pemberdayaan Masyarakat Di Tengah Pandemi Covid-19 Berbasis Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)”, Undip mengistilahkan KKN tahun ini dengan sebutan “KKN Pulang Kampung” dimana, para mahasiswa yang mengikuti KKN di periode ini, ditugaskan untuk melaksanakan programnya secara mandiri di daerah tempat tinggal mereka.
Tersebar hampir di seluruh provinsi, di lebih dari 200 kabupaten/kota di Indonesia, menjadikan KKN yang dilaksanakan Undip dan beberapa kampus lainnya berbeda dari periode-periode sebelumnya. Luar biasa! begitu luas cakupan wilayahnya, dan besar harapan, hal tersebut juga dibarengi dengan banyaknya manfaat yang dapat dihasilkan dari terselenggaranya KKN saat pandemi ini.
Salah satu mahasiswa yang melaksanakan KKN di tengah pandemi ini ialah Muthahary Hayyurahman, mahasiswa departemen Akuntansi Undip yang berasal dari Kota Bekasi. Setelah pihak kampus secara resmi mengalihkan seluruh kegiatan mahasiswa ke mekanisme daring pada Maret kemarin, ia segera kembali ke rumahnya di daerah Jakasampurna, Kota Bekasi, saat itu pemerintah belum memberlakukan peraturan yang ketat, sehingga ia masih dapat kembali ke rumah tanpa protokol yang sulit seperti yang diberlakukan saat ini.
Menurut Hary, sapaan akrabnya, pelaksanaan KKN dengan mekanisme baru ini adalah suatu keniscayaan, karena nyatanya kondisi saat ini memaksakan demikian. KKN yang didesain oleh pihak kampus menurutnya juga sudah ideal, yang artinya logis untuk tetap dilaksanakan di tengah pandemi saat ini walaupun dengan berbagai batasan-batasan.
Banyaknya hal-hal yang dibatasi, menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya dan juga mahasiswa lain yang melaksanakan KKN ini untuk mencari alternatif kegiatan tanpa melanggar batasan-batasan yang ada, seperti berpergian ke luar kota, mengumpulkan banyak orang dan lain sebagainya.
Di bawah arahan dosen pembimbing nya, Ir. Kustopo Budiharjo, MP. Hary memulai kegiatan KKN nya dengan melakukan diskusi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Menurutnya, dari diskusi yang dilaksanakan tersebut diharapkan dapat memunculkan ide-ide kreatif yang dapat menjadi modal bagi dirinya untuk meramu program KKN yang akan dilaksanakannya.
Kewajiban untuk melaksanakan dua program selama KKN ini, membawa Hary pada dua hal penting, yaitu mengenai pengelolaan keuangan pada bisnis millenials dan penerapan protokol kesehatan di tempat makan/restoran di sekitar tempat tinggalnya. Untuk pengelolaan bisnis millenials, ia membuat program sederhana di excel dan mensosialisasikan penggunaannya melalui zoom dan juga Google meet. Sedangkan untuk tempat makan/restoran, ia membuat poster-poster edukatif yang ia tempelkan dan sosialisasikan ke beberapa tempat makan/restoran, berkaitan dengan protokol kesehatan yang harus dipatuhi oleh mereka saat beroperasi di tengah pandemi.
Ketika ditanya lebih jauh mengenai tanggapannya tentang pelaksanaan KKN di tengah pandemi ini, Hary menuturkan bahwa ini adalah kegiatan yang sangat bermanfaat dan juga dibutuhkan sekarang, dimana mahasiswa dari berbagai daerah dituntut untuk turun secara langsung di daerahnya masing-masing, bukan hanya melihat masalah namun lebih dari itu, mahasiswa juga dituntut untuk aktif terlibat mengatasi permasalahan yang ada di lingkungannya. Lebih jauh lagi, secara gamblang hary menjelaskan bahwa baginya, KKN ini memiliki dua makna penting.
Pertama, KKN di tengah pandemi ini adalah momentum kita sebagai pribadi dan juga sebagai mahasiswa untuk lebih peduli. Bahkan seharusnya, ini juga dapat menjadi momentum bagi tiap orang tanpa terkecuali – tanpa peduli batas-batas yuridiksi, latar belakang, suku, agama, bahkan jumlah kekayaan – untuk sama-sama peduli. Ia menambahkan, menurutnya, pandemi ini adalah masalah bersama, yang sudah seharusnya juga dihadapi dan juga diselesaikan dengan bersama-sama.
Kedua, pelaksanaan KKN ini juga bermakna sebagai sarana pembuktian kita sebagai mahasiswa. Peran mahasiswa sebagai agent of change misalnya, seharusnya bukan hanya muncul dan tenggelam sebagai isi nasihat senior ke junior saja, namun sudah seharusnya dibuktikan dengan langkah konkrit berwujud pengabdian langsung kepada masyarakat. Maka, pelaksanaan KKN inilah salah satu sarananya.
Hary menambahkan, bagi masyarakat secara umum, pandemi ini pun juga harusnya dimaknai sama, sebagai sarana pembuktian atas keberadaan mereka di tengah-tengah lingkungannya. Walaupun ada pembatasan sosial, namun menurutnya itu tidak sama sekali berhubungan dengan solidaritas sosial antar sesama yang seharusnya semakin terlihat saat pandemi ini. Ini merupakan sarana pembuktian kita sebagai manusia, bahwa kita masih bisa saling peduli walaupun tidak bertemu, saling mengingatkan walaupun tidak saling kenal, dan saling membantu walaupun sama-sama membutuhkan.
Anggapan kontra juga telah mewarnai pelaksanaan KKN di tengah pandemi ini, seperti terkesan memaksakan, memberatkan, sulit direalisasikan, dan anggapan lainnya. Namun, ketika dilihat dari kacamata kemanusiaan, KKN ini telah secara konkrit mendorong mahasiswa untuk lebih produktif walaupun saat pandemi, dan untuk lebih dekat dan lebih peduli dengan lingkungannya. Dua makna yang Hary tuturkan sebelumnya, jika diiilhami secara baik, khususnya oleh mahasiswa yang melaksanakan KKN dan juga oleh masyarakat secara umum, seharusnya dapat melahirkan insan-insan yang mengabdi secara ikhlas, dan peduli kepada masyarakat luas. (ar)













