Rotasi.co.id – Harga cabai rawit merah di Kota Bekasi mengalami kenaikan hingga mencapai Rp80.000 per kilogram.
Berdasarkan pantauan di Pasar Baru Bekasi, harga tersebut bertahan selama sekitar satu bulan setelah sebelumnya berada di kisaran Rp50.000 per kilogram.
Kenaikan harga cabai rawit merah tersebut mulai terjadi sejak Agustus 2026 dan hingga Rabu (23/9/2026) belum menunjukkan perubahan.
Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat, khususnya pelaku usaha kuliner yang menggunakan cabai dalam jumlah besar, mengalami penurunan.
Pedagang cabai rawit merah di Pasar Baru Kota Bekasi, Taufik, mengatakan harga cabai rawit merah saat ini mencapai Rp80.000 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut meningkat sekitar Rp30.000 dibandingkan harga sebulan sebelumnya.
“Cabai rawit merah Rp80 ribu per kilo. Naik sudah sebulan. Sebelumnya Rp50 ribu per kilo, sekitar sebulan lalu,” kata Taufik dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Kenaikan harga tersebut turut berdampak terhadap jumlah pembelian cabai rawit merah oleh konsumen.
Taufik menyebut pembelian mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen karena masyarakat dan pelaku usaha menyesuaikan jumlah belanja dengan harga yang berlaku.
“Biasanya pedagang pecel lele atau ayam bakar beli cabai rawit merah kiloan, sekarang cuma beli setengah kilo bahkan seperempat kilo saja,” ujar Taufik.
Selain cabai rawit merah, sejumlah komoditas lain di Pasar Baru Bekasi masih berada pada harga yang relatif normal.
Seperti cabai rawit keriting tercatat sekitar Rp50.000 per kilogram, cabai rawit hijau Rp40.000 per kilogram, tomat Rp10.000 per kilogram, sedangkan bawang merah berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.
“Kalau cabai rawit keriting Rp50 ribu per kilo masih normal. Cabai rawit hijau Rp40 ribu per kilo, tomat Rp10 ribu per kilo, dan bawang merah sekitar Rp30 ribu per kilo,” jelas Taufik.
Sementara itu, Analis Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, membenarkan adanya kenaikan harga cabai rawit merah.
Ia menjelaskan kondisi musim kemarau dan gagal panen menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga komoditas tersebut.
“Cabai rawit merah terjadi kenaikan. Penyebabnya di antaranya sekarang musim kemarau dan gagal panen,” ungkap Eko.
Selain faktor produksi, Eko menyebut tingginya permintaan cabai rawit merah di Kota Bekasi turut memberikan tekanan terhadap harga.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan cabai berasal dari berbagai pelaku usaha kuliner dan rumah makan.
“Permintaan cabai rawit itu di Kota Bekasi khususnya terlalu tinggi, hingga kenaikan harga tidak dapat terbendung,” ujarnya.
Eko juga mengungkapkan harga cabai rawit merah masih berpotensi mengalami fluktuasi karena pasokan Kota Bekasi berasal dari sejumlah daerah penghasil.
Pemerintah daerah, menurutnya, dapat mengoptimalkan kerja sama antardaerah apabila daerah lain memiliki ketersediaan stok yang lebih besar.
“Mungkin harga ini juga bisa fluktuasi. Biasanya kan masuk dari beberapa daerah. Kalau di daerah penghasil yang lainnya bisa ada lebih stoknya, kita bisa kerjasamakan, akan terkendali. Tapi hampir rata-rata nasional memang naik semua,” jelas Eko.
Disdagperin Kota Bekasi juga mencatat kenaikan pada komoditas lain, meskipun tidak seluruhnya mengalami perubahan harga yang sama.
Salah satu komoditas yang disebut mengalami kenaikan adalah daging sapi dari sekitar Rp140.000 menjadi Rp150.000 per kilogram.
“Komoditas lain yang mengalami kenaikan kemarin daging sapi, dari Rp140 ribu jadi Rp150 ribu,” kata Eko.
Sementara itu, harga cabai rawit hijau juga disebut mengalami kenaikan, tetapi menurut Eko perubahannya relatif kecil dibandingkan cabai rawit merah.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga tidak terjadi dengan besaran yang sama pada seluruh jenis cabai.
“Beberapa cabai, cabai rawit merah, cabai rawit hijau, naiknya tidak signifikan, Rp5.000 per kilo,” ungkapnya.
Untuk komoditas telur dan daging ayam, Eko menyampaikan kondisi harga masih relatif terkendali.
Ia menjelaskan stabilnya harga pakan menjadi salah satu faktor yang membuat harga kedua komoditas tersebut belum terdampak secara signifikan.
“Kalau telur masih aman, karena harga dasar pakannya masih tidak ada kenaikan. Kalau kenaikan dari pakannya otomatis dagingnya naik, telurnya naik,” jelas Eko.
Kenaikan harga cabai rawit merah di Kota Bekasi dengan demikian masih berkaitan dengan kombinasi faktor produksi, permintaan, dan kondisi pasokan dari daerah penghasil.
Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan harga serta berkomunikasi dengan daerah pemasok untuk menjaga ketersediaan komoditas di pasar.
“Kalau daerah penghasil yang lainnya bisa ada lebih stoknya, kita bisa kerjasamakan, sehingga harga bisa lebih terkendali,” pungkas Eko. (*)














