Rotasi.co.id – Gempa bumi berkekuatan M 4,7 yang mengguncang Karawang dan Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (20/8/2025), menjadi pengingat nyata akan ancaman sesar aktif di wilayah Jawa Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sumber gempa berasal dari Sesar Citarik, jalur patahan aktif yang memanjang dari Pelabuhan Ratu hingga Bekasi.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang. Ia menegaskan, gempa tersebut menyebabkan 41 rumah rusak dan 111 warga terdampak di enam kecamatan.
“Kerusakan ringan teridentifikasi di Kecamatan Tegalwaru, Klari, Ciampel, Telukjambe Barat, Pangkalan, hingga Tirtamulya. Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dasar, mushola, puskesmas, hingga kantor kecamatan juga mengalami kerusakan,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya dikutip.
Gempa dangkal itu juga berdampak pada moda transportasi. Kereta Cepat Whoosh dan KRL Jabodetabek sempat berhenti operasi sementara demi keselamatan penumpang.
Meski tak menimbulkan korban jiwa, guncangan ini kembali menegaskan bahwa jalur sesar di Jawa Barat masih aktif dan berpotensi menimbulkan bencana lebih besar.
Sesar Citarik Aktif Sejak Jutaan Tahun Lalu
Penelitian Sidarto dari Pusat Survei Geologi (2008) menyebut, Sesar Citarik terbentuk sejak belasan juta tahun lalu dan masih aktif hingga kini.
Mekanismenya berupa pergeseran mendatar mengiri (sinistral strike-slip) yang kerap memicu gempa bumi.
“Sesar ini bukan hanya aktif, tetapi juga berpengaruh terhadap pembentukan mineralisasi dan keberadaan lapangan panas bumi di kawasan Pegunungan Bayah,” tulis Sidarto dalam laporannya.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menambahkan bahwa Sesar Citarik telah memicu sejumlah gempa signifikan.
“Beberapa gempa merusak terjadi di Sukabumi, Bogor, hingga Karawang. Sejarah mencatat peristiwa besar tahun 1900, 1975, 2000, 2020, dan terakhir Bogor tahun 2025,” ujar Daryono, Minggu (24/8/2025).
Ia juga mengingatkan, gempa kuat di Bogor tahun 1834 dengan intensitas VIII–IX MMI yang merusak Batavia dan Istana Bogor, kemungkinan besar dipicu oleh Sesar Citarik.
Potensi Ancaman Gempa di Jakarta dan Sekitarnya
Sejarah kegempaan ini membuat para ahli menekankan pentingnya memperhitungkan potensi gempa Jakarta dalam pembangunan infrastruktur.
Daryono menegaskan, Sesar Citarik berpotensi menimbulkan gempa kuat di kawasan Jabodetabek, sehingga jalur ini harus menjadi perhatian serius.
Selain Sesar Citarik, kawasan Jabodetabek juga diapit oleh Sesar Baribis yang terbukti aktif.
Penelitian terbaru oleh Guru Besar ITB, Sri Widiyantoro, (2022) menunjukkan segmen timur Sesar Baribis bahkan lebih aktif dibanding segmen barat.
Laju geser mencapai 5 mm per tahun, memperlihatkan potensi akumulasi energi yang bisa dilepaskan dalam bentuk gempa besar.
“Jakarta bagian selatan sangat rentan terhadap gempa bumi masa depan. Data historis membuktikan, gempa tahun 1780 dan 1834 bersumber dari Sesar Baribis dan menimbulkan kerusakan luas di Batavia,” tulis Widiyantoro dalam jurnal Nature.
Dengan keberadaan dua sesar aktif, yaitu Sesar Citarik dan Sesar Baribis, wilayah Jawa Barat termasuk Karawang, Bekasi, Bogor, hingga Jakarta memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi.
Para ahli mengingatkan pentingnya mitigasi, pembangunan infrastruktur tahan gempa, serta kesadaran masyarakat menghadapi ancaman bencana di masa depan. (*)














